Minggu, 10 April 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PEMBEDAHAN OBSTETRI (SECSIO SECSARIA)

1. DEFINISI BEDAH CAESAR

 Istilah bedah caesar (sectio caesarea) berasal dari perkataan Latin caedere yang artinya memotong. Pengertian ini awalnya dijumpai dalam Roman Law (Lex Regia) dan Emperor's Law (Lex Caesarea) yaitu undang-undang yang menghendaki supaya janin dalam kandungan ibu-ibu yang meninggal harus dikeluarkan dari dalam rahim.
 Ada beberapa definisi tentang section cesaria. Menurut Rustam Mochtar (1992), Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut.
 Sedangkan menurut Sarwono (1991) Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram.
 Sectio caesaria adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus persalinan buatan, sehingga janin dilahirkan melalui perut dan dinding perut dan dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan sehat. (Harnawatiaj, 2008)
 Sectio caesaria adalah suatu tindakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi).
 Seksio Sesaria adalah kelahiran janin melalui insisi transabdomen pada uterus. Istilah ini kemungkinan besar berasal dari kata Latin Caedo, yang berarti “memotong”. Baik direncanakan (dijadwalkan) atau tidak (darurat). Tujuan dasar kelahiran sesaria adalah memelihara kehidupan atau kesehatan ibu dan janinnya. Penggunaan cara sesaria didasarkan pada bukti adanya stres maternal atau fetal. Morbiditas dan mortalitas maternal dan fetal menurun sejak adanya metode pembedahan dan perawatan modern. Namun, kelahiran sesaria ini masih mengancam kesehatan ibu dan bayi. (Bobak, 2004)

2. INDIKASI SECTIO CAESARIA
Sectio Caesaria biasanya dilakukan jika ada gangguan pada salah satu dari tiga faktor yang terlibat dalam proses persalinan yang menyebabkan persalinan tidak dapat berjalan lancar dan bila dibiarkan maka dapat terjadi komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin. 3 faktor tersebut adalah :

1. Jalan lahir (passage)
2. Janin (passanger)
3. Kekuatan yang ada pada ibu (power)

1. FAKTOR IBU

• Disproporsi kepala panggul/CPD//FPD
Ukuran panggul yang sempit dan tidak proporsional dengan ukuran janin menimbulkan kesulitan dalam persalinan pervaginam. Panggul sempit lebih sering pada wanita dengan tinggi badan kurang dari 145 cm. Kesempitan panggul dapat ditemukan pada satu bidang atau lebih, PAP dianggap sempit bila konjunctiva vera kurang dari 10 cm atau diameter transversal <12>6 minggu solusio plasenta, dan emboli air ketuban. Retensio plasenta atau plasenta rest, gangguan pelepasan plasenta menimbulakan perdarahan dari tempat implantasi palsenta
• Disfungsi uterus
• Distosia jaringan lunak
• Usia
Ibu yang melahirkan untuk pertama kalinya berusia lebih dari 35 tahun memiliki resiko melahirkan dengan seksiocaesarea karena pada usia tersebut ibu memiliki penyakit beresiko seperti hipertensi, jantung, DM, dan preeklamsia.
• Infeksi
Setiap tindakan operasi vaginal selalu diikuti oleh kontaminasi bakteri, sehingga menimbulkan infeksi. Infeksi makin meningkat apabila didahului oleh
Keadaan umum yang kurang baik: anemia saat hamil, sudah terdapat manipulasi intra-uterin, sudah terdapat infeksi. Perlukaan operasi yang menjadi jalan masuk bakteri.Terdapat retensio.
• Trauma tindakan operasi persalinan
Operasi merupakan tindakan paksa pertolongan persalinan sehingga menimbulkan trauma jalan lahir. Trauma operasi persalinan dijabarkan sebagai berikut:

- Perluasan luka episiotomi
- Perlukaan pada vagian
- Perlukaan pada serviks
- Perlukaan pada forniks-kolfoporeksis
- Terjadi ruptura uteri lengkap atau tidak lengkap
- Terjadi fistula dan ingkontinensia

2. FAKTOR JANIN

• Janin besar
Berat bayi 4000 gram atau lebih (giant baby), menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. Dengan perkiraan berat yang sama tetapi pada ibu yang berbeda maka tindakan persalinan yang dilakukan juga berbeda. Misalnya untuk ibu yang mempunyai panggul terlalu sempit, berat janin 3000 gram sudah dianggap besar karena bayi tidak dapat melewati jalan lahir. Selain janin yang besar, berat janin kurang dari 2,5 kg, lahir prematur, dan dismatur, atau pertumbuhan janin terlambat , juga menjadi pertimbangan dilakukan seksiocaesarea.
• Gawat janin
Diagnosa gawat janin berdasarkan pada keadaan kekurangan oksigen (hipoksia) yang diketahui dari DJJ yang abnormal, dan adanya mekonium dalam air ketuban. Normalnya, air ketuban pada bayi cukup bulan berwarna putih agak keruh, seperti air cucian beras. Jika tindakan seksio caesarea tidak dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi kerusakan neurologis akibat keadaan asidosis yang progresif.
• Letak lintang
Kelainan letak ini dapat disebabkan karena adanya tumor dijalan lahir, panggul sempit, kelainan dinding rahim, kelainan bentuk rahim, plesenta previa, cairan ketuban pecah banyak, kehamilan kembar dan ukuran janin. Keadaan tersebut menyebabkan keluarnya bayi terhenti dan macet dengan presentasi tubuh janin di dalam rahim. Bila dibiarkan terlalu lama, mengakibatkan janin kekurangan oksigen dan meyebabkan kerusakan otak janin.
• Letak Sungsang
Resiko bayi lahir sungsang dengan presentasi bokong pada persalinan alami diperkirakan 4x lebih besar dibandingkan keadaan normal. Pada bayi aterm, tahapan moulage kepala sangat penting agar kepala berhasil lewat jalan lahir. Pada keadaan ini persalinan pervaginam kurang menguntungkan. Karena ; pertama, persalinan terlambat beberapa menit, akibat penurunan kepala menyesuaikan dengan panggul ibu, padahal hipoksia dan asidosis bertambah berat. Kedua, persalinan yang dipacu dapat menyebabkan trauma karena penekanan, traksi ataupun kedua-duanya. Misalnya trauma otak, syaraf, tulang belakang, tulang rangka dan viseral abdomen.
• Bayi Abnormal
Misalnya pada keadaan hidrosefalus, kerusakan Rh dan kerusakan genetik.

3. FAKTOR JALAN LAHIR

• Plasenta Previa
Posisi plasenta terletak di bawah rahim dan menutupi sebahgian dan atau seluruh jalan lahir. Dalam keadaan ini, plasenta mungkin lahit lebih dahulu dari janin. Hal ini menyebabkan janin kekurangan O2 dan nutrisi yang biasanya diperoleh lewat plasenta. Bila tidak dilakukan SC, dikhawatirkan terjadi perdarahan pada tempat implantasi plasenta sehingga serviks dan SBR menjadi tipis dan mudah robek.
• Solusio Placenta
Keadaan dimana plasenta lepas lebih cepat dari korpus uteri sebelum janin lahir. SC dilakukan untuk mencegah kekurangan oksigen atau keracunan air ketuban pada janin. Terlepasnya plasenta ditandai dengan perdarahan yang banyak, baik pervaginam maupun yang menumpuk di dalam rahim.
• Plasenta accreta
Merupakan keadaan menempelnya sisa plasenta di otot rahim. Jika sisa plasenta yang menempel sedikit, maka rahim tidak perlu diangkat, jika banyak perlu dilakukan pengangkatan rahim.
• Yasa previa
Keadaan dimana adanya pembuluh darah dibawah rahim yang bila dilewati janin dapat menimbulkan perdarahan yang banyak.
• Kelainan tali pusat.
a. Pelepasan tali pusat (tali pusat menumbung)

Keadaan dimana tali pusat berada di depan atau di samping bagian terbawah janin, atau tali pusat telah berada dijalan lahir sebelum bayi, dan keadaan bertambah buruk bila tali pusat tertekan.

b. Terlilit tali pusat

Lilitan tali pusat ke tubuh janin akan berbahaya jika kondisi tali pusat terjepit atau terpelintir sehinggga aliran oksigen dan nutrisi ketubuh janin tidak lancar. Lilitan tali pusat mengganggu turunnya kepala janin yang sudah waktunya dilahirkan.

c. Bayi kembar

Kelahiran kembar mempunyai resiko terjadinya komplikasi yang lebih tinggi misalnya terjadi preeklamsia pada ibu hamil yang stress, cairan ketuban yang berlebihan.

Bagi bayi yang sungsang akibat dipicu adanya tumor atau placenta previa, maka operasi cesar adalah keharusan. Sebab tak ada penanganan yang bisa dilakukan, selain dengan melakukan operasi untuk mengetahui posisi bayi yang dikandung mengalami sungsang atau tidak, sebaiknya jangan hanya berdasarkan hasil USG. “Saat kontrol, sebaiknya ibu aktif bertanya perihal letak janin di dalam kandungan. Begitu juga dengan umur kehamilan, perkiraan berat janin, letak plasenta serta volume air ketuban.

Operasi cesar dapat menurunkan risiko yang dialami janin saat lahir. Bayi yang lahir secara normal dalam kondisi sungsang, memiliki risiko komplikasi yang cukup besar dibanding bayi yang letaknya normal. Karena itu dokter umumnya cenderung memilih proses persalinan bedah cesar.

Beberapa literatur menyebutkan, dokter yang membantu persalinan normal bayi sungsang harus berpacu dengan waktu. Sebab, jeda waktu antara keluarnya tali pusat dengan kepala bayi hanya sekitar tiga atau delapan menit saja untuk menghindari risiko tingginya kematian janin. Selang waktu antara ketuban pecah dengan persalinan pun tak boleh lebih dari delapan jam, ini untuk menghindari terjadinya kemacetan dan kepala bayi yang tengadah (Hyperekstersi) yang menyebabkan bayi tak dapat lahir atau after coming head dystocia.

3. KONTRA INDIKASI BEDAH CAESAR
Pada umumnya sectio caesarian tidak dilakukan pada janin mati, syok, anemi berat sebelum diatasi, kelainan kongenital berat (Sarwono, 1991)
4. JENIS - JENIS OPERASI SECTIO CAESAREA
1. ABDOMEN (SECTIO CAESAREA ABDOMINALIS)
a. Sectio caesarea transperitonealis
SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm.
Kelebihan :
• Mengeluarkan janin dengan cepat
• Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik
• Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan
• Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik
• Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan
• SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim)
b. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal
Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm
Kelebihan :
• Penjahitan luka lebih mudah
• Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik
• Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum
• Perdarahan tidak begitu banyak
• Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil
Kekurangan :
• Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak
• Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi
2. VAGINA (SECTION CAESAREA VAGINALIS)
Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut (Mochtar, Rustam, 1992) :
1. Sayatan memanjang ( longitudinal )
2. Sayatan melintang ( Transversal )
3. Sayatan huruf T ( T insicion )

5. PROGNOSIS OPERASI SECTIO CAESAREA
Pada Ibu
Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang oleh karena kemajuan yang pesat dalam tehnik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika angka ini sangat menurun.
Pada anak
Seperti halnya dengan ibunya, nasib anak yang dilahirkan dengan sectio caesaria banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan sectio caesaria. Menurut statistik di negara - negara dengan pengawasan antenatal dan intra natal yang baik, kematian perinatal pasca sectio caesaria berkisar antara 4 hingga 7 %. (Sarwono, 1999).
6. KOMPLIKASI OPERASI SECTIO CAESAREA
Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain :
1. Infeksi puerperal ( Nifas )
- Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari
- Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung
- Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik
2. Perdarahan
- Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
- Perdarahan pada plasenta bed
3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi
4. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya
7. DAMPAK BEDAH CAESAR

Tanpa indikasi medis, ibu sudah seharusnya menjalani persalinan normal. Namun agaknya, masih banyak kesalahkaprahan dalam memandang persalinan sesar. Akibatnya, bersalin sesar atau normal sama-sama dijadikan pilihan seperti halnya menu makanan. Memang benar, kalau ibu dan ayah mendesak si jabang bayi dilahirkan di tanggal pesanan.

Proses melahirkan melalui caesar memiliki beberapa dampak baik pada ibu maupun pada bayi, Adapun dampak proses melahirkan melalui caesar yang akan di alami ibu yaitu:

1. SAKIT DI TULANG BELAKANG

Banyak ibu setelah sesar mengeluh sakit di bagian tulang belakang (tempat dilakukan suntik anastesi sebelum operasi). Keluhan ini umumnya terasa saat membungkukkan badan, mengambil sesuatu di lantai, atau mengangkat beban yang lumayan berat. Sumber rasa nyeri berada tepat pada bekas tusukan jarum suntik saat dilakukan bius lokal.

Akibatnya, sehabis melahirkan sesar, ibu tidak disarankan melakukan gerakan yang terlalu mendadak dan drastis serta harus menghindari mengangkat beban berat. Umumnya jika keluhan ini berlarut-larut atau intensitas sakitnya meningkat, ibu disarankan untuk berkonsultasi pada dokter. Kalau perlu, akan dilakukan pemeriksaan penunjang, misalnya rontgen tulang belakang. Pada ibu yang melahirkan normal, kondisi ini tidak terjadi. Empat puluh hari bahkan enam jam setelah bersalin, ibu bisa langsung beraktivitas normal.

2. NYERI DI BEKAS SAYATAN

Pascaoperasi, saat efek anestesi hilang, nyeri di bekas sayatan bedah akan terasa.

Ibu melahirkan normal, setelah istirahat enam jam, paling-paling akan merasa letih atau pegal-pegal. Rasa letih ini lekas hilang jika ibu banyak bergerak.

3. RASA KEBAL DI BEKAS SAYATAN

Keluhan lain sehabis operasi sesar adalah rasa kebal di bagian atas bekas sayatan operasi. Ini wajar karena saraf di daerah tersebut boleh jadi ada yang terputus akibat sayatan saat operasi. Butuh kira-kira 6-12 bulan, sampai serabut saraf tersebut menyambung kembali. Pada persalinan normal, putus saraf di perut dipastikan tidak ada.

4. NYERI DI BEKAS JAHITAN

Keluhan ini sebetulnya wajar karena tubuh tengah mengalami luka, dan penyembuhannya tidak bisa sempurna 100%. Apalagi jika luka tersebut tergolong panjang dan dalam. Dalam operasi sesar ada 7 lapisan perut yang harus disayat. Sementara saat proses penutupan luka, 7 lapisan tersebut dijahit satu demi satu menggunakan beberapa macam benang jahit. Dalam proses penyembuhan tak bisa dihindari terjadinya pembentukan jaringan parut. Jaringan parut inilah yang dapat menyebabkan nyeri saat melakukan aktivitas tertentu, terlebih aktivitas yang berlebihan atau aktivitas yang memberi penekanan di bagian tersebut.

Pada persalinan normal, walau ada jahitan pada vagina (ini juga tidak pada semua ibu), tapi efeknya tidak akan seperti kondisi ibu disesar. Ibu yang bersalin normal biasanya tidak akan mengeluhkan apa-apa pada jahitan tersebut.

5. MUAL MUNTAH

Rasa mual-muntah yang umumnya timbul akibat sisa-sisa anestesi pada diri ibu.Efek seperti ini, tidak ditemukan pada ibu bersalin normal. Yang ibu rasakan hanyalah perasaan letih, lapar, dan haus.

6. MUNCUL KELOID DI BEKAS JAHITAN

Selama masa penyembuhan luka operasi, banyak ibu yang gundah karena perutnya tak lagi mulus. Apalagi jika di bekas jahitan muncul benjolan memanjang yang disebut keloid. Munculnya keloid pada bekas sayatan operasi sesar biasanya disebabkan oleh paparan cairan ketuban yang mengandung faktor pertumbuhan sel, jenis benang jahit yang dipakai, teknik menjahit, serta bakat seseorang dalam reaksi jaringan. Pada ibu yang bersalin normal, mendambakan perut yang tetap mulus seperti saat gadis bukanlah masalah berarti.

7. GATAL DI BEKAS JAHITAN

Rasa gatal di bekas jahitan sangat mengganggu dan mendorong ibu untuk menggaruknya. Sedihnya, tidak disarankan bagi ibu untuk menggaruk karena dikhawatirkan jahitan akan terbuka dan menimbulkan dampak lebih parah. Rasa gatal bisa timbul akibat adanya infeksi pada daerah luka operasi seperti infeksi jamur atau karena reaksi penyembuhan luka yang berlebihan.

Bila penyebabnya infeksi biasanya akan tampak tanda radang di daerah jahitan (ditandai dengan kulit yang berwarna kemerahan, ada luka, ada cairan yang keluar, terasa panas, dan terasa nyeri bila ditekan). Berbeda bila disebabkan reaksi kulit yang berlebihan; kulit di daerah jahitan menebal dan mengeras serta menonjol dibanding permukaan kulit lainnya. Inilah yang disebut keloid. Ibu bersalin normal tidak merasakan hal ini karena tidak ada luka sayatan di daerah perut.


8. LUKA BERPELUANG INFEKSI

Ibu yang melahirkan secara sesar harus menjaga luka di perutnya agar jangan sampai terkena air dan terinfeksi. Proses penyembuhan luka bekas sesar biasanya berlangsung 10 hari. Bagi ibu yang bersalin normal, perawatan luka kemungkinan dilakukan di bibir vagina yang diepisiotomi (digunting sedikit). Jika tak ada indikasi perlunya eposiotomi, setelah bersalin normal dan kembali bugar, ibu boleh mandi sesuka hati.


9. MINUM ANTIBIOTIK

Untuk mencegah infeksi pada luka sayatan sesar, pascaoperasi ibu akan diberi antibiotik untuk beberapa hari ke depan. Jadi, sabar-sabar saja untuk tidak putus obat sepanjang dosis yang ditentukan dokter. Ibu bersalin normal, tidak perlu antibiotik. Yang mesti dipenuhi adalah asupan makanan empat sehat lima sempurna, dan minum minimal 8 gelas sehari.

10. TIDAK BOLEH SEGERA HAMIL

Jarak aman antarkehamilan yang disarankan adalah 2 tahun setelah sesar, meski ini bukan angka mati karena terpulang kembali pada kondisi masing-masing ibu. Idealnya, sehabis menjalani operasi sesar, tunda kehamilan sampai luka operasi dan jahitannya benar-benar sembuh dan kuat. Kehamilan selagi jahitan masih "basah" dan belum kuat dikhawatirkan membuatnya lepas dan selanjutnya membahayakan ibu seiring dengan membesarnya perut. Selain itu, tenggang waktu 2 tahun ini juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada organ-organ reproduksi maupun organ lainnya untuk beristirahat.

Pada ibu yang bersalin normal, jarak setahun tidaklah masalah. Namun, tentu saja jarak kehamilan sedekat ini tidak dianjurkan karena tidak terlalu baik bagi psikis anak yang sangat membutuhkan perhatian penuh sampai ia cukup mandiri dan bisa berbagi.

11. MOBILISASI TERBATAS

Dalam waktu 24 jam, mobilisasi ibu pascapersalinan sesar mesti dilakukan secara lebih lama dan lebih bertahap. Tanpa itu, proses penyembuhan luka bisa mengalami gangguan. Ibu yang melahirkan normal, setelah 6 jam beristirahat hanya perlu tahapan singkat mobilisasi. Setelah itu, ibu dapat langsung beraktivitas seperti biasa.

12. LATIHAN PERNAPASAN DAN BATUK

Latihan pernapasan dan batuk bagi ibu sesar dimaksudkan untuk membantu mengeluarkan sisa-sisa anestesi. Tujuannya agar paru-paru benar-benar bersih dan terhindar dari risiko pneumonia. Ibu bersalin normal tidak perlu susah-susah melakukan latihan napas dan batuk. Cukup lakukan senam ringan yang akan membantu proses pemulihan.

13. KEMUNGKINAN SEMBELIT

Sehabis menjalani operasi sesar, biasanya ibu baru bisa buang air besar beberapa hari kemudian. Pada ibu yang bersalin normal, kondisi sembelit umumnya tidak ditemui.

14. DIBATASI 3 ANAK

Mereka yang sudah menjalani 3x operasi sesar mau tidak mau harus bersedia disteril. Ini adalah standar medis di Indonesia guna menghindari hal-hal yang sangat membahayakan ibu maupun janinnya. Juga karena memang belum ada RS yang menyediakan teknologi mutakhir untuk melakukan operasi sesar keempat kalinya pada ibu yang sama.

Pada ibu yang melakukan persalinan normal, setelah bersalin anak ketiga, jika masih berencana ingin punya anak keempat dan seterusnya boleh-boleh saja. Dengan catatan ibu mampu lahir dan batin.


8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Pemantauan janin terhadap kesehatan janin
• Pemantauan EKG
• JDL dengan diferensial
• Elektrolit
• Hemoglobin/Hematokrit
• Golongan darah
• Urinalisis
• Amniosentesis terhadap maturitas paru janin sesuai indikasi
• Pemeriksaan sinar x sesuai indikasi.
• Ultrasound sesuai pesanan
(Tucker, Susan Martin, 1998)
9. PENATALAKSANAAN MEDIS
• Cairan IV sesuai indikasi.
• Anestesia; regional atau general
• Perjanjian dari orang terdekat untuk tujuan sectio caesaria.
• Tes laboratorium/diagnostik sesuai indikasi.
• Pemberian oksitosin sesuai indikasi.
• Tanda vital per protokol ruangan pemulihan
• Persiapan kulit pembedahan abdomen
• Persetujuan ditandatangani.
• Pemasangan kateter foley

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
Pelaksanaan asuhan keperawatan masa nifas pada post operasi sectio caesaria melalui pendekatan proses keperawatan dengan melaksanakan :
1. PENGKAJIAN
Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria, data yang dapat ditemukan meliputi distress janin, kegagalan untuk melanjutkan persalinan, malposisi janin, prolaps tali pust, abrupsio plasenta dan plasenta previa. (Tucker, Susan Martin, 1998)

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan post operasi sectio caesaria ada 6 (Tucker, Susan Martin, 1998) yaitu ;
a. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang prosedur dan perawatan sebelum melahirkan sesar.
b. Nyeri yang berhubungan dengan kondisi pasca operasi.
c. Kerusakan perfusi jaringan kardiopulmoner dan perifer yang berhubungan dengan interupsi aliran sekunder terhadap imobilitas pasca operasi.
d. Resiko terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan dan/atau konstipasi yang berhubungan dengan manipulasi dan/atau trauma sekunder terhadap sectio caesaria.
e. Resiko terhadap infeksi atau cedera yang berhubungan dengan prosedur pembedahan.
f. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan melahirkan caesar.

3. PERENCANAAN ATAU INTERVENSI

A. KURANG PENGETAHUAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KURANG INFORMASI TENTANG PROSEDUR DAN PERAWATAN SEBELUM MELAHIRKAN SESAR.
Tujuan : - Pasien akan mengungkapkan rasional untuk melahirkan sesar dan bekerjasama dalam persiapan prabedah.
Intervensi :
- Diskusikan dengan ibu dan orang terdekat alasan untuk seksio saesaria.
- Jelaskan prosedur praoperasi “normal” dan resiko variasi untuk situasi saat ini.
- Saksi penandatanganan persetujuan tindakan dan dapatkan tanda vital dasar.
- Ambil darah untuj JDL, elektrolit, golongan darah dan skrin.
- Dapatkan urine untuk urinalisis.

B. NYERI YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONDISI PASCA OPERASI.
Tujuan : Nyeri diminimalkan/dikontrol dan pasien mengungkapkan bahwa ia nyaman.
Intervensi :
- Antisipasi kebutuhan terhadap obat nyeri dan atau metode tambahan penghilang nyeri.
- Perhatikan dokumentasikan, dan identifikasi keluhan nyeri pada sisi insisi; abdomen, wajah - meringis terhadap nyeri, penurunan mobilitas, perilaku distraksi/penghilang.
- Berikan obat nyeri sesuai pesanan dan evaluasi efektivitasnya.
- Berikan tindakan kenyamanan lain yang dapat membantu, seperti perubahan posisi atau menyokong dengan bantal.
C. KERUSAKAN PERFUSI JARINGAN KARDIOPULMONER DAN PERIFER YANG BERHUBUNGAN DENGAN INTERUPSI ALIRAN SEKUNDER TERHADAP IMOBILITAS PASCA OPERASI.
Tujuan : - Pasien tidak mengalami kongesti pernafasan
- Menunjukkan tak ada tanda atau gejala emboli pulmonal atau trombosis vena dalam selama perawatan di rumah sakit.
Intervensi :
- Kaji status pernafasan dengan tanda vital.
- Dokumentasikan dan laporkan peningkatan frekuensi pernafasan, batuk non produktif, ronki terdengar, rales, atau kongesti jalan napas atas.
- Anjurkan pasien untuk batuk, membalik, dan napas dalam setiap 2 jam selama hari pascaoperasi pertama.
- Demostrasikan pembebatan untuk menyokong insisi.
- Anjurkan penggunaan spirometer insentif.

D. RESIKO TERHADAP PERUBAHAN POLA ELIMINASI PERKEMIHAN DAN/ATAU KONSTIPASI YANG BERHUBUNGAN DENGAN MANIPULASI DAN/ATAU TRAUMA SEKUNDER TERHADAP SECTIO CAESARIA.
Tujuan : - Berkemih secara spontan tanpa ketidaknyamanan
• Mengalami defeksi dalam 3 sampai 4 hari setelah pembedahan.
Intervensi :
- Anjurkan berkemih setiap 4 jam sampai 6 jam bila mungkin.
- Berikan tekhnik untuk mendorong berkemih sesuai kebutuhan.
- Jelaskan prosedur perawatan perineal per kebijakan rumah sakit.
- Palpasi abdomen bawah bila pasien melaporkan distensi kandung kemih dan ketidakmampuan untuk berkemih.
- Anjurkan ibu untuk ambulasi sesuai toleransi.

E. RESIKO TERHADAP INFEKSI ATAU CEDERA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PROSEDUR PEMBEDAHAN.
Tujuan : - Insisi bedah dan kering, tanpa tanda atau gejala infeksi.
Intervensi :
- Pantau terhadap peningkatan suhu atau takikardia sebagai tanda infeksi.
- Observasi insisi terhadap infeksi.
- Penggantian pembalut atau sesuai pesanan
- Kaji fundus, lochia, dan kandung kemih dengan tanda vital sesuai pesanan.
- Massage fundus uteri bila menggembung dan tidak tetap keras

F. KURANG PENGETAHUAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KURANG INFORMASI TENTANG PERAWATAN MELAHIRKAN CAESAR.
Tujuan : - Klien mengungkapkan pemahaman tentang perawatan melahirkan sesar.
Intervensi :
- Diskusikan tentang perawatan insisi, gejala infeksi dan pentingnya diet nutrisi.
- Jelaskan tentang pentingnya periode istirahat terencana.
- Jelaskan bahwa lochia dapat berlanjut selama 3 – 4 minggu, berubah dari merah ke coklat sampai putih.
- Jelaskan pentingnya latihan, tidak mulai latiha keras sampai diizinkan oleh dokter.
- Jelaskan tentang perawatan payudara dan ekspresi manual bila menyusui.

4. IMPLEMENTASI
Selama tahap implementasi perawat melaksanakan rencana asuhan keperawatan. Instruksi keperawatan diimplementasikan untuk membantu klien memenuhi kriteria hasil.
Komponen tahap implementasi terdiri dari :
Tindakan keperawatan mandiri
Tindakan keperawatan mandiri dilakukan tanpa pesanan dokter. Tindakan keperawatan mandiri ini ditetapkan dengan standar praktek American Nurses Association; undang – undang praktik keperawatan negara bagian; dan kebijakan institusi perawatan kesehatan.
Tindakan keperawatan kolaboratif
Tindakan keperawatan kolaboratif diimplementasikan bila perawat bekerja dengan anggota tim perawatan kesehatan yang lain dalam membuat keputusan bersama yang bertujuan untuk mengatasi masalah – masalah klien.
Dokumentasi tindakan keperawatan dan respons klien terhadap asuhan keperawatan.
Frekuensi dokumentasi terhantung pada kondisi klien dan terapi yang diberikan. Di rumah sakit, catatan perawat ditulis minimal setiap shift dan diagnosa keperawatan dicatat di rencana asuhan keperawatan. Setiap klien harus dikaji dan dikaji ulang sesuai dengan kebijakan institusi perawatan kesehatan (Allen, Carol Vestal, 1998)

5. EVALUASI
Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil – hasil yang diamati dengan kriteria hsil yang dibuat pada tahap perencanaan. Klien keluar dari siklus proses keperawatan apabila kriteria hasil telah dicapai. Klien akan masuk kembali ke dalam siklus apabila kriteria hasil belum tercapai.
Komponen tahap evaluasi terdiri dari pencapaian kriteria hasil, keefektifan tahap – tahap proses keperawatan dan revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan. (Allen, Carol Vestal, 1998)
Pada evaluasi klien dengan post operasi sectio caesaria, kriteria evaluasi adalah sebagai berikut :
1. Pasien akan mengungkapkan rasional untuk melahirkan sesar dan bekerjasama dalam persiapan prabedah
2. Nyeri diminimalkan/dikontrol dan pasien mengungkapkan bahwa ia nyaman
3. Pasien tidak mengalami kongesti pernafasan dan menunjukkan tak ada tanda atau gejala emboli pulmonal atau trombosis vena dalam selama perawatan di rumah sakit.
4. Berkemih secara spontan tanpa ketidaknyamanan dan mengalami defeksi dalam 3 sampai 4 hari setelah pembedahan
6. Insisi bedah dan kering, tanpa tanda atau gejala infeksi, involusi uterus berlanjut secara normal
7. Klien mengungkapkan pemahaman tentang perawatan melahirkan sesar


DAFTAR PUSTAKA
1. Allen, Carol Vestal, (1998) Memahami Proses Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.
2. Hamilton, Persis Mary,(1995) Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas, Edisi 6, EGC. Jakarta.
3. Ibrahim S. Cristina,(1993) Perawatan Kebidanan, Bratara Jakarta.
4. Manuaba, Ida Bagus Gde, (1998), Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, EGC. Jakarta.
5. Martius, Gerhard, (1997), Bedah Kebidanan Martius, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
6. ______________, (1999), Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
7. Muchtar, Rustam,(1998), Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jilid 1, EGC. Jakarta.
8. Sarwono Prawiroharjo,(1999)., Ilmu Kebidanan, Edisi 2 Cetakan II Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.
9. _____________, (1991), Ilmu Bedah Kebidanan, Edisi 1 Cet. 2, Yayasn Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
10. Tucker, Susan Martin, (1998), Standar Perawatan Pasien, Edisi 5, Volume 4, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.

Kamis, 17 Maret 2011

PENGKAJIAN BAYI BARU LAHIR (BBL)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir dengan kehamilan atau masa gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu 36 – 40 minggu. Bayi baru lahir normal harus menjalani proses adaptasi dari kehidupan di dalam rahim (intrauterine) ke kehidupan di luar rahim (ekstrauterin). Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke ekstrauterin dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi, mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir normal. Penatalaksanaan dan mengenali kondisi kesehatan bayi baru lahir resiko tinggi yang mana memerlukan pelayanan rujukan/ tindakan lanjut.
Salah satu masalah yang sering ditemukan pada bayi yaitu bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) maupun bayi kurang bulan (BKB ) merupakan masalah utama di negara berkembang termasuk Indonesia.
BBLR sampai saat ini masih merupakan masalah di Indonesia, karena merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa neonatal. Menurut SKRT 2001, 29 % kematian neonatal karena BBLR.
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.
Masalah yang sering timbul sebagai penyulit BBLR adalah hipotermi, hiperbilirubinemia, hipoglikemi, infeksi / sepsis dan ganguan minum. Dengan banyaknya penyulit pada BBLR, kita harus dapat mencegahnya mulai dari meningkatkan pengetahuan ibu tentang BBLR dan langkah – langkah untuk mencegah hal tersebut.
Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 – 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan, karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kenadungan dapat hidup sebaik – baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Peralihan dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan fungsi.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran secara umum tentang asuhan keperawatan pada bayi baru lahir serta pada bayi dengan berat badan lahir rendah.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu memahami tentang bayi baru lahir serta gangguan yang mungkin terjadi pada bayi baru lahir.
b. Mampu mengidentifikasi penilaian awal dan langkah esensial bayi baru lahir.
c. Mampu melaksanakan pengkajian terkait dengan bayi baru lahir.


BAB II
ISI

A. Tinjauan Teoritis
1. Defenisi bayi baru lahir normal
Bayi baru lahir normal (BBLN) adalah bayi yang baru lahir dengan usia kehamilan atau masa gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu 36 – 40 minggu. Bayi baru lahir normal harus menjalani proses adaptasi dari kehidupan di dalam rahim ke kehidupan di luar rahim. Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke luar rahim dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi, mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir.
2. Penilaian awal dan langkah esensial bayi baru lahir
a. Penilaian awal bayi baru lahir
Penilaian awal dilakukan pada bayi baru lahir untuk menilai kondisi bayi apakah :
- Bayi dinyatakan cukup bulan jika usia gestasinya lebih kurang 36 – 40 minggu.
Maturitas bayi mempengaruhi kemampuannya untuk beradaptasi di luar rahim (uterus)
- Air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium.
Tinja bayi pada 24 jam pertama kelahiran hingga 2 atau 3 hari berbentuk mekonium yang berwarna hijau tua yang berada di dalam usus bayi sejak dalam kandungan ibu. Mekonium mengandung sejumlah cairan amnion, verniks, sekresi saluran pencernaan, empedu, lanugo dan zat sisa dari jaringan tubuh.
- Bayi menangis atau bernapas.
Sebagian besar bayi bernapas spontan. Perhatikan dalamnya pernapasan, frekuensi pernapasan, apnea, napas cuping hidung, retraksi otot dada. Dapat dikatakan normal bila frekuensi pernapasan bayi jam pertama berkisar 80 kali permenit dan bayi segera menangis kuat pada saat lahir.
- Tonus otot bayi baik atau bayi bergerak aktif.
Pada saat lahir otot bayi lembut dan lentur. Otot – otot tersebut memiliki tonus, kemampuan untuk berkontraksi ketika ada rangsangan, tetapi bayi kurang mempunyai kemampuan untuk mengontrolnya. Sistem neurologis bayi secara anatomi dan fisiologis belum berkembang sempurna, sehingga bayi menunjukkan gerakan – gerakan tidak terkoordinasi, control otot yang buruk, mudah terkejut, dan tremor pada ekstremitas.
- Warna kulit bayi normal.
Perhatikan warna kulit bayi apakah warna merah muda, pucat, kebiruan, atau kuning, timbul perdarahan dikulit atau adanya edema. Warna kulit bayi yang normal, bayi tampak kemerah – merahan. Kulit bayi terlihat sangat halus dan tipis, lapisan lemak subkutan belum melapisi kapiler. Kemerahan ini tetap terlihat pada kulit dengan pigmen yang banyak sekalipun dan bahkan menjadi lebih kemerahan ketika bayi menangis.
b. Diagnosis bayi baru lahir
Diagnosis bayi baru lahir pada dasarnya berguna untuk mencari atau mendeteksi sedini mungkin adanya kelainan pada janin. Kegagalan untuk mendeteksi kelainan janin dapatt menimbulkan masalah pada jam – jam pertama kehidupan bayi diluar rahim. Dengan mengetahui kelainan pada janin dapat membantu untuk mengambil tindakan serta memberikan asuhkan keperawatan yang tepat sehingga dapat membantu bayi baru lahir sehat untuk tetap sehat sejak awal kehidupannya.
Penilaian bayi pada kelahiran adalah untuk mengetahui derajat vitalitas fungsi tubuh. Derajat vitalitas adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat essensial dan kompleks untuk kelangsungan hidup bayi seperti pernapasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan refleks – refleks primitive seperti menghisap dan mencari putting susu. Bila tidak ditangani secara tepat, cepat dan benar keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat dan bahkan mungkin meninggal. Pada beberapa bayi mungkin dapat pulih kembali dengan spontan dalam 10 – 30 menit sesudah lahir namun bayi tetap mempunyai resiko tinggi untuk cacat.
Umumnya penilaian pada bayi baru lahir dipakai nilai APGAR (APGAR Score). Pertemuan SAREC tahun 1985 menganjurkan penggunaan parameter penilaian bayi baru lahir dengan cara sederhana yang disebut SIGTUNA (SIGTUNA Score) sesuai dengan nama tempat terjadinya konsensus. Penilaian cara ini terutama untuk tingkat pelayanan kesehatan dasar karena hanya menilai dua parameter yang essensial.
Penilaian derajat vitalitas bayi baru lahir dapat juga digunakan penilaian secara APGAR. Pelaksanaannya cukup kompleks karena pada saat bersamaan penolong persalinan harus menilai lima parameter yaitu denyut jantung, usaha napas, tonus otot, gerakan dan warna kulit. Dari hasil penelitian di Amerika Serikat nilai APGAR sangat bermanfaat untuk mengenal bayi resiko tinggi yang potensial untuk kematian dan kecacatan neurologis jangka panjang. Dari lima variable nilai APGAR hanya pernapasan dan denyut jantung yang berkaitan erat dengan terjadinya hipoksia dan anoksia. Ketiga variabel lain lebih merupakan indicator maturitas tumbuh kembang bayi.
Penilaian APGAR skor ditemukan oleh Dr. Virginia Apgar (1950). Penilaian APGAR skor ini dilakukan pada menit pertama kelahiran untuk member kesempatan kepada bayi memulai perubahan kemudian menit ke-5 serta pada menit ke-10. Penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yang rendah dan perlu tindakan resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi morbiditas pada masa mendatang, nilai yang rendah berhubungan dengan kondisi neurologis.

SKOR APGAR

TANDA 0 1 2
Appearance Biru,pucat Badan pucat,tungkai biru Semuanya merah muda
Pulse Tidak teraba < 100 > 100
Grimace Tidak ada Lambat Menangis kuat
Activity Lemas/lumpuh Gerakan sedikit/fleksi tungkai Aktif/fleksi tungkai baik/reaksi melawan
Respiratory Tidak ada Lambat, tidak teratur Baik, menangis kuat

Prosedur penilaian APGAR
• Pastikan pencahayaan baik
• Catat waktu kelahiran, nilai APGAR pada 1 menit pertama dg cepat & simultan. Jumlahkan hasilnya
• Lakukan tindakan dg cepat & tepat sesuai dg hasilnya
• Ulangi pada menit kelima
• Ulangi pada menit kesepuluh
• Dokumentasikan hasil & lakukan tindakan yg sesuai
Penilaian
o Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2
o Nilai tertinggi adalah 10
• Nilai 7-10 menunjukkan bahwa by dlm keadaan baik
• Nilai 4 - 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang & membutuhkan tindakan resusitasi
• Nilai 0 – 3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius & membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi

c. Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir normal
Dalam waktu 24 jam setelah bayi lahir lakukan pemeriksaan fisik pada bayi. Ketika melakukan pemeriksaan fisik pada bayi lahir normal hal- hal yang harus diperhatikan oleh petugas adalah informasikan prosedur terlebih dahulu pada orang tua, gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan, cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan dan bertindak lembut pada saat menangani bayi, lepaskan pakaian hanya pada area yang diperiksa, untuk mencegah kehilangan panas, lakukan prosedur yang mengganggu seperti menguji refleks pada tahap akhir, lakukan secara cepat untuk menghindari stress pada bayi. Petugas dapat melihat, mendengarkan dan merasakan tiap – tiap daerah yang akan diperiksa yang dimulai dari kepala dan berlanjut secara sistematik menuju kaki. Jika ditemukan faktor resiko atau masalah, petugas dapat meminta bantuan yang memang diperlukan. Rekam dan catatlah hasil pengamatan setiap hasil pemeriksaan dan setiap tindakan yang diperlukan lebih lanjut.

Tujuan Pemeriksaan Fisik pada bayi baru lahir
(1) Mengidentifikasi riwayat kesehatan bayi
(2) Mengobservasi karakteristik bayi
(3) Memperkirakan usia gestasi
(4) Mengkaji perilaku bayi
(5) Mengkaji integritas neuromuscular
(6) Mengidentifikasi masalah kesehatan
(7) Merencanakan tindakan
(8) Menggunakan hasil pengkajian untuk mengajarkan orang tua tentang bayinya
Langkah –langkah dalam pemeriksaan fisik pada bayi :
(1) Pemeriksaan umum
Pemeriksaan umum dilakukan pada bayi baru lahir adalah pengukuran Anthopometri yaitu pengukuran lingkar kepala yang dalam keadaan normal berkisar 33 – 35 cm, lingkar dada 30,5 – 33 cm, panjang badan 45 – 50 cm, berat badan bayi 2500 gram – 4500 gram.
(2) Pemeriksaan tanda – tanda vital
Suhu tubuh, nadi, pernapasan bayi baru lahir bervariasi dalam berespon terhadap lingkungan.
(a) Suhu tubuh
Pada saat lahir suhu tubuh bayi hampir sama dengan suhu tubuh ibunya. Namun demikian bayi memiliki sedikit lemak, luas permukaan tubuh yang besar dan sirkulasi pernapasan yang belum sempurna, sehingga bayi mudah jatuh dalam kondisi hipotermi. Suhu bayi dalam keadaan normal berkisar antara 36,5 derajat celcius - 37,5 derajat celcius pada pengukuran diaksila.
(b) Nadi
Denyut nadi bayi tergantung dari aktivitas bayi. Nadi dapat menjadi tidak teratur karena adanya rangsangan seperti menangis, perubahan suhu yang tiba – tiba. Denyut nadi bayi yang normal berkisar 120 – 140 kali permenit.
(c) Pernapasan
Pernapasan pada bayi baru lahir tidak teratur kedalaman, kecepatan, iramanya. Pernapasannya bervariasi dari 30 sampai 60 kali permenit. Pernapasan juga dipengaruhi oleh aktivitas bayi seperti menangis, serta perubahan suhu yang tiba-tiba.
(d) Tekanan darah
Tekanan darah bayi baru lahir rendah dan sulit untuk diukur secara akurat. Meskipun tidak secara rutin diukur pada waktu lahir, tekanan darah yang dilakukan dengan ultrasonografi Doppler merupakan metode yang paling akurat pada bayi. Metode ini mengukur sistolik dan diastolik serta tekanan arteri rata – rata tekanan darah pada waktu lahir adalah 80/ 46 mmHg.
(3) Pemeriksaan fisik secara sistematik (head to too)
Pemeriksaan fisik secara sistematik pada bayi baru lahir dimulai dari :
(a) Kepala
Raba sepanjang garis sutura dan fontanel, apakah ukuran dan tampilannya normal. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan bayi preterm, moulding yang buruk atau hidrosefalus. Pada kelahiran spontan letak kepala, sering terlihat tulang kepala tumpang tindih yang disebut moulding atau moulase. Keadaan ini normal kembali setelah beberapa hari sehingga ubun –ubun mudah diraba. Perhatikan ukuran dan ketegangannya. Fontanel anterior harus diraba, fontanel yang besar dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini diakibatkan peningkatan tekanan intracranial, sedangkan yang cekung dapat terjadi akibat dehidrasi. Terkadang teraba fontanel ketiga antara fontanel anterior dan posterior, hal ini terjadi karena adanya trisomi 21.
Periksa adanya trauma kelahiran misalnya : caput suksedaneum, sefalhematoma, perdarahan subaponeurotik/ fraktur tulang tengkorak. Perhatikan adanya kelainan congenital seperti : anensefali, mikrosefali, kraniotabes dan sebagainya.
(b) Telinga
Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya pada bayi cukup bulan, tulang rawan sudah matang. Daun telinga harus berbentuk sempurna dengan lengkungan yang jelas dibagian atas. Perhatikan letak daun telinga. Daun telinga yang letaknya rendah (low set ears) terdapat pada bayi yang mengalami sindrom tertentu (Pierre – robin). Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel hal ini dapat berhubungan dengan abnormalitas ginjal.
(c) Mata
Hipertelorisme okular, mata dengan jarak lebar, jarak lebih dari 3 cm antara kantus mata bagaian dalam dapat dideteksi. Periksa jumlah, posisi atau letak mata. Periksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna. Periksa adanya glaukoma kongenital, mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea. Katarak congenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil harus tampak bulat. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina. Periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau retina, adanya secret pada mata, konjungtivitis oleh kuman gonokokus dapat terjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan. Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami sindrom down.
(d) Hidung dan mulut
Bibir bayi baru lahir harus kemerahan dan lidahnya harus rata dan simetris. Bibir dipastikan tidak adanya sumbing, dan langit – langit harus tertutup. Refleks hisap bayi harus bagus, dan berespons terhadap rangsangan. Kaji bentuk dan lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus lebih dari 2,5 cm.
Bayi harus bernapas dengan hidung, jika melalui mulut harus diperhatikan kemungkinan ada obstruksi jalan napas karena atresia koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring.
Periksa adanya sekret yang mukopurulen yang terkadang berdarah, hal ini kemungkinan adanya sifilis congenital. Periksa adanya pernapasan cuping hidung, jika cuping hidung mengembang menunjukkan adanya rangsangan pernapasan.
(e) Leher
Ukuran leher normalnya pendek dengan banyak lipatan tebal. Leher berselaput berhubungan dengan abnormalitas kromosom. Periksa kesimetrisannya. Pergerakannya harus baik. Jika terdapat keterbatasan pergerakan kemungkinan ada kelainan tulang leher. Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pada fleksus brakhialis. Lakukan perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan. Periksa adanya pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis. Adanya lipatan kulit yang berlebihan di bagian belakang leher menunjukkan adanya kemungkinan trisomi 21.
(f) Dada
Kontur dan simetrisitas dada normalnya adalah bulat dan simetris. Payudara baik pada laki – laki maupun perempuan terlihat membesar karena pengaruh hormone wanita dari darah ibu. Periksa kesimetrisan gerakan dada saat bernapas. Apabila tidak simetris kemungkinan bayi mengalami pneumotoraks, paresis diafragma atau hernia diafragmatika. Pernapasan yang normal dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan. Tarikan sternum atau interkostal pada saat bernapas perlu diperhatikan.
(g) Bahu, lengan dan tangan
Gerakan normal, kedua lengan harus bebas bergerak, jika gerakan kurang kemungkinan adanya kerusakan neurologis atau fraktur. Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya polidaktili atau sidaktili. Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu buah berkaitan dengan abnormalitas kromosom, seperti trisomi 21. Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut, sehingga menimbulkan luka dan perdarahan.
(h) Perut
Bentuk, penonjolan sekitar tali pusat pada saat menangis, perdarahan tali pusat. Perut harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan dada saat bernapas. Kaji adanya pembengkakan, jika perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika, perut yang membuncit kemungkinan karena hepato-splenomegali atau tumor lainnya. Jika perut kembung kemungkinan adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau duktus omfaloentriskus persisten.
(i) Kelamin
Pada wanita labia minora dapat ditemukan adanya verniks dan smegma (kelenjer kecil yang terletak di bawah prepusium mensekresi bahan yang seperti keju) pada lekukan. Labia mayora normalnya menutupi labia minora dan klitoris. Klitoris normalnya menonjol. Menstruasi palsu kadang ditemukan, diduga pengaruh hormon ibu disebut juga psedomenstruasi. Normalnya terdapat umbai himen. Pada bayi laki-laki rugae normalnya tampak pada skrotum dan kedua testis turun kedalam skrotum. Meatus urinarius normalnya terletak pada ujung glands penis. Epispadia adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kondisi meatus berada dipermukaan dorsal. Hipospadia untuk menjelaskan kondisi meatus berada dipermukaan ventral penis.
(j) Ekstremitas atas dan bawah
Ekstremitas bagian atas normalnya fleksi dengan baik, dengan gerakan yang simetris. Refleks menggenggam normalnya ada. Kelemahan otot parstial atau komplet dapat menandakan trauma pada pleksus brakhialis. Nadi brakhialis normalnya ada. Ekstremitas bagian bawah normalnya pendek, bengkok dan fleksi dengan baik. Nadi femoralis dan pedis normalnya ada.
(k) Punggung
Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tanda-tanda abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan atau cekungan, lesung atau bercak kecil berambut yang dapat menunjukkan adanya abnormalitas medulla spinalis atau kolumna vertebra.
(l) Kulit
Verniks (tidak perlu dibersihkan karena adanya untuk menjaga kehangatan tubuh bayi), warna, pembengkakan atau bercak-bercak hitam, tanda – tanda lahir. Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang bulan.
(m) Refleks
Refleks berkedip, batuk, bersin, dan muntah ada pada waktu lahir dan tetap tidak berubah sampai masa dewasa. Beberapa refleks lain normalnya ada waktu lahir, yang menunjukkan imaturitas neurologis, refleks – refleks tersebut akan hilang pada tahun pertama. Tidak adanya refleks – refleks ini menandakan masalah neurologis yang serius.


Refleks Respons Normal Respons abnormal
Rooting dan mengisap Bayi baru lahir menolehkan kepala kearah stimulus, membuka mulut dan mulai mengisap bila pipi, bibir, atau sudut mulut disentuh dengan jari atau putting susu. Respons yang lemah atau tidak ada respon terjadi pada prematuritas, penurunan atau cidera neurologis, atau depresi sistem saraf pusat (SSP). Sekunder karena menelan obat maternal (misalnya narkotik)
Menelan Bayi baru lahir menelan berkoordinasi dengan mengisap bila cairan ditaruh dibelakang lidah Muntah, batuk atau regurgitasi cairan dapat terjadi, kemungkinan berhubungan dengan sianosis sekunder karena prematuritas, defisit neurologis, atau cedera, terutama terlihat setelah laringoskopi.
Ekstrusi Bayi baru lahir menjulurkan lidah keluar bila ujung lidah disentuh dengan jari atau puting susu Ekstrusi lidah secara kontiniu atau menjulurkan lidah yang berulang – ulang terjadi pada kelainan SSP dan kejang.
Moro
Ekstensi simetris bilateral dan abduksi seluruh ekstremitas, dengan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf “C” diikuti dengan aduksi ekstremitas dan kembali ke fleksi relaks jika posisi bayi berubah tiba-tiba atau jika bayi diletakkan telentang pada permukaan yang datar. Respons asimetris terlihat pada cidera saraf perifer (plesus brakhialis) atau fraktur klavikula atau fraktur tulang panjang lengan dan kaki. Tidak ada respons terjadi pada kasus – kasus cedera SSP yang berat.
Melangkah Bayi akan melangkah dengan satu kaki dan kemudian kaki lainnya dengan gerakan berjalan bila satu kaki disentuh pada permukaan rata bayi akan berusaha untuk merangkak ke depan dengan kedua tangan dan kaki bila diletakkan telungkup pada permukaan datar. Respons asimetris terlihat pada cedera saraf SSP atau perifer atau fraktur tulang panjang kaki. Respons asimetris terlihat pada cedera saraf SSP atau perifer atau fraktur tulang panjang.
Tonik leher atau “flencing” Ekstremitas pada satu sisi dimana kepala ditolehkan akan ekstensi, dan ekstremitas yang berlawanan akan fleksi bila kepala bayi ditolehkan ke satu sisi selagi beristirahat. Respons ini dapat tidak ada atau tidak lengkap segera setelah lahir. Respons persisten setelah bulan keempat dapat menandakan cedera neurologis. Respons menetap tampak pada cedera SSP dan gangguan neurologis
Terkejut Bayi melakukan abduksi dan fleksi seluruh ekstremitas dan dapat mulai menangis bila mendapat gerakan mendadak atau suara keras Tidak adanya respons menandakan defisit neurologis atau cedera. Tidak adanya respons secara lengkap dan konsisten terhadap bunyi keras dapat menandakan ketulian. Respon dapat menjadi tidak ada atau berkurang selama tidur dalam.
Ekstensi silang Kaki bayi yang berlawanan akan fleksi dan kemudian ekstensi dengan cepat seolah – olah berusaha untuk memindahkan stimulus ke kaki yang lain bila diletakkan telentang bayi akan mengekstensikan satu kaki sebagai respon terhadap stimulus pada telapak kaki. Respon yang lemah atau tidak ada respon terlihat pada cedera saraf perifer atau fraktur tulang panjang.
Glabellar “blink” Bayi akan berkedip bila dilakukan 4 atau 5 ketuk pertama pada batang hidung pada saat mata terbuka. Terus berkedip dan gagal untuk berkedip menandakan kemungkinan gangguan neurologis.
Palmar graps Jari bayi akan melekuk disekeliling benda dan menggenggamnya seketika bila jari diletakkan di telapak tangan bayi. Respon ini berkurang pada prematuritas. Asimetris terjadi pada kerusakan saraf perifer (pleksus brakhialis) atau fraktur humerus. Tidak ada respon terjadi pada defisit neurologis yang berat.
Plantar graps Jari –jari bayi akan melekuk kebawah bila jari diletakkan di dasar jari – jari kaki Respon ini berkurang pada prematuritas.
Tanda Babinski Jari –jari kaki bayi akan hiperekstensi dan terpisah seperti kipas dari dorsifleksi ibu jari kaki bila satu sisi kaki digosok dari tumit ke atas melintasi bantalan kaki Tidak ada respon terjadi pada defisit SSP

d. Mencegah terjadinya infeksi pada bayi baru lahir
Pencegahan infeksi merupakan upaya untuk mencegah transmisi silang dan diterapkan dengan mengacu pada kewaspadaan standar. Proses peralatan atau instrument harus dilakukan secara benar dan mengikuti standar yang ada agar diperoleh hasil maksimal dan memenuhi syarat. Pencegahan infeksi tidak selalu berarti penambahan biaya, yang penting adalah terbangunnya budaya bersih, menjamin rasa aman dan kesungguhan untuk memberikan pelayanan berkualitas.
Infeksi yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir normal adalah melalui tali pusat. Tali pusat dalam istilah medis disebut umbilical cord. Ini merupakan saluran kehidupan bagi janin selama di dalam kandungan. Semasa dalam rahim, tali pusat inilah yang menyalurkan oksigen dan makanan dari plasenta ke janin yang berada di dalamnya, karena janin sudah dapat bernapas sendiri melalui hidungnya. Karena sudah tidak diperlukan lagi maka saluran ini harus dipotong dan dijepit atau diikat.
Infeksi dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusat yang tidak menggunakan alat – alat steril dan pada saat penyembuhan tali pusat. Ketika bayi baru lahir tali pusat biasanya masih terdapat pada abdomennya dengan beberapa tipe penjepitan atau pengikat tali pusat. Segera setelah lahir pembuluh umbilikus masih dapat menyebabkan perdarahan yang fatal bila penjepit atau pengikatnya kendur. Kadang- kadang bakteri memasuki area tersebut sebelum terjadi penyembuhan, hal inilah yang dapat menyebabkan infeksi pada tali pusat.

Pencegahan infeksi pada saat pemotongan tali pusat dan mengikat tali pusat dapat dilakukan dengan cara :
1. Bersihkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan kedalam larutan clorin 0,5 % untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
2. Klemlah tali pusat dengan dua buah klem yang steril kira – kira 2 dan 3 cm dari pangkal tali pusat, kemudian potonglah tali pusat diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri.
3. Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat, ganti sarung tangan jika telah kotor.
4. Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT).
5. Keringkan tangan dengan handuk atau kain bersih yang kering.
6. Ikat puntung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan benang disinfeksi tingkat tinggi atau klem plastik tali pusat yang steril.
Pemotongan tali pusat pada bayi lahir normal dilakukan sekitar 2 menit setelah bayi lahir atau setelah menyuntikan oksitoksin 10 IU intra muscular kepada ibu dengan alasan untuk memberi cukup waktu bagi tali pusat untuk mengalirkan darah kaya besi kepada bayi. Jangan mengoleskan salep apapun, atau zat lain ke tampuk tali pusat. Hindari pembungkusan tali pusat atau jika dibungkus tutupi dengan kassa steril dalam keadaan longgar, tampuk tali pusat yang tidak tertutup agar terkena udara akan mongering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang lebih sedikit. Popok bayi dilipat dibawah tali pusat, jika tali pusat terkena kotoran atau tinja bayi, cuci dengan air bersih serta keringkan betul – betul.
Tanda – tanda tali pusat mengalami infeksi yang perlu diwaspadai dengan cepat pada bayi lahir normal adalah :
• Tali pusat berwarna merah
• Daerah sekitar tali pusat bengkak
• Keluar cairan berbau busuk dari daerah sekitar tali pusat
• Cairan kadang – kadang disertai dengan darah
jika infeksi terjadi pada bayi lahir normal akan terjadi peningkatan suhu berkisar diatas 37,5° C, bayi menangis terus menerus tidak bisa tenang, kejang halus dan lemas.
Pencegahan infeksi pada saat pemulihan tali pusat :
Cuci tangan sebelum memegang bayi dan setelah menggunakan toilet untuk buang air kecil maupun air besar. Jaga tali pusat bayi dalam keadaan bersih selalu dan letakkan popok di bawah tali pusat. Jika tali pusat kotor cuci dengan air bersih dan sabun. Bayi dimandikan setiap hari dengan membersihkan seluruh badan bayi terutama tali pusat dibersihkan dengan air bersih, hangat, dan sabun. Jaga bayi dari orang – orang yang menderita infeksi dan pastikan setiap orang yang memegang bayi selalu cuci tangan terlebih dahulu.
Pengendalian infeksi nasokomial
Untuk mengendalikan infeksi nasokomial pada bayi baru lahir dan neonates diperlukan suatu prosedur standar yang harus dipatuhi oleh petugas yang terlibat didalamnya. Prosedur standar ini berbeda untuk setiap bangsal perawatan. Misalnya prosedur di bangsal bayi baru lahir yang sehat tidak sama dengan prosedur perawatan di bangsal perawatan intensif. Secara umum berbagai prosedur dibawah ini harus dikerjakan di bangsal perawatan bayi, yaitu :
1. Prosedur pada mata
Pencegahan ophthalmia neonatorum adalah satu cara yang praktis dilakukan untuk mengontrol infeksi pada bayi baru lahir. Untuk ini dapat dipakai obat mata topical seperti setetes larutan Perak Nitrat 1 % ; salep mata eritromisin 0,5 % atau Tetrasiklin 1 %. Kedua salep mata ini juga dapat mencegah Klamidia trakomatis. Berikan dalam 1 jam pertama kelahiran. Setelah pemberian profilaksis infeksi mata, kembalikan bayi pada ibunya untuk disusukan dan bergabung kembali.
2. Perawatan kulit dan tali pusat
Dianjurkan untuk merawat kulit neonates dengan teknik “dry skin care”, maksudnya membuat kulit agar tetap kering dengan mengatur suhu kamar, mengurangi trauma pada kulit dan mencegah pemberian obat – obat topikal yang mempunyai efek samping terhadap kulit. Dalam hal ini termasuk membersihkan bayi hendaknya setelah temperaturnya stabil dan tidak menggunakan antiseptik. Kemudian untuk menghilangkan darah dan mekonium dari wajah, kepala dan badan dipakai spons katuun yang steril dengan air hangat. Untuk perawatan tali pusat, tidak satupun yang lebih baik dari pada yang lainnya untuk membatasi kolonisasi bakteri. Yang penting ialah membuat tali pusat kering. Untuk itu dapat dipakai obat – obat topikal seperti :
• Triple dye
• Salep Bacitracin
• Krem Silver sulfadiazine
• Betadine 10 %
Semua obat diatas dapat memperlambat atau mengurangi kolonisasi bakteri di tali pusat, terutama Stafilokokkus aureus. Alkohol, yang sering dipakai di rumah sakit maupun setelah pulang dari rumah sakit mempercepat keringnya tali pusat dan lepasnya tali pusat. Akan tetapi obat ini efektif untuk membatasi kolonisasi bakteri.
3. Staf perawatan
Oleh karena banyaknya bayi dalam satu bangsal dan kurangnya staf, akan meningkatkan terjadinya infeksi nasokomial. American Academy of Pediatrics menganjurkan pada bangsal bayi baru lahir yang sehat rasio perawat : bayi adalah 1 perawat : 6 – 8 bayi; sedangkan bangsal bayi dengan rawat gabung parsial membutuhkan 1 perawat untuk 4 – 5 pasangan ibu bayi. Disini dianjurkan agar perawat mencuci tangan terlebih dulu sebelum kontak dengan bayi. Di bangsal bayi baru lahir dengan perawatan intensif yang sederhana diperlukan rasio 1 : 3 – 4, maksudnya satu perawat untuk 3 – 4 bayi, dan pada bangsal perawatan intensif (NICU) 1 perawatan untuk 1 – 2 bayi.
4. Desain ruang perawatan
Jarak yang adekuat antara tempat tidur bayi dengan peralatan lainnya dapat mencegah kepadatan dan mengurangi resiko kontaminasi yang tidak disengaja antara bayi dengan petugas. Luas lantai yang di rekomendasikan untuk satu tempat tdr bayi bervariasi tergantung intensitas perawatannya. Untuk level 1 : 20- 25 tempat tidur; level II : 30 – 50 feet dan level III : 80 – 100.
5. Rawat gabung
Banyak rumah sakit melakukan rawat gabung untuk merawat bayi normal. Dari berbagai penelitian terlihat bahwa tidak ada kenaikan insiden infeksi nasokomial pada bayi –bayi yang dirawat gabung bila dibandingkan pada bayi – bayi yang dirawat gabung bila dibandingkan pada bayi – bayi yang dirawat di bangsal perawatan bayi normal. Jika program ini adalah suatu cara yang potensial untuk mengurangi resiko kepadatan dan menurunkan kontaminasi silang di bangsal perawatan bayi normal. Setiap orang yang masuk ke kamar bayi harus memakai sandal khusus dan mencuci tangan.
6. Air susu ibu
Air susu ibu adalah makanan standar bagi semua bayi. Menggalakkan penggunaan air susu ibu adalah sangat penting karena ASI member perlindungan alamiah terhadap problema saluran cerna yang sering timbul pada neonatus. Clavano (1982) dengan cara rawat gabung dan penggunaan ASI berhasil menurunkan kejadian diare, moniliasis mulut dan sepsis. Sedangkan Narayan (1981) dengan penggunaan ASI pada BBLR berhasil pula menurunkan kejadian infeksi.
7. Mencuci tangan
Oleh karena cara penularan infeksi yang utama di bangsal bayi adalah melalui tangan petugas (bakteri transien), maka mencuci tangan merupakan salah satu cara yang efektif untuk melaksanakan program mengkontrol infeksi. Dengan mencuci tangan maka mikroba yang berada di tangan petugas akan hilang. Mencuci tangan dengan memakai sabun selama 15 detik akan menghilangkan mikroba yang berada di tangan (bakteri transien). Sedangkan untuk membersihkan bakteri residen diperlukan waktu yang lebih lama dan harus memakai detergen anti bakteri.
8. Pakaian
Dulu pemakaian gaun dianjurkan. Akan tetapi ternyata pemakaian gaun ini tidak mengurangi penularan bakteri atau tidak menurunkan insiden infeksi nasokomial di bangsal bayi baru lahir.
9. Isolasi
Diperlukan pada kasus yang menular seperti penyakit karena stafilokokkus, konjungtivitis bakterialis, dan diare. Perlindungan fisik (isolasi) adalah suatu cara untuk mengendalikan penyebaran infeksi di rumah sakit.
10. Pengunjung
Harus dibatasi masuk ke bangsal perawatan bayi untuk mencegah timbulnya infeksi, terutama pengunjung yang sakit.
11. Pengontrolan terhadap epidemic
Yaitu dengan pemeriksaan epidemiologi mendata prosedur dan teknik yang selama ini digunakan untuk merawat bayi seperti perawatan kulit dan tali pusat, cara – cara desinfeksi dan sterilisasi alat – alat.
Hal ini dilakukan dengan cara :
• Survey kultur dari pasien –pasien yang disangkakan untuk mendeteksi karier asimptomatik (misalnya tali pusat lubang hidung pada epidemi stafilokokkus).
• Kultur bagian –bagian tubuh petugas yang selalu berhubungan dengan perawatan bayi untuk mengetahui sumber dan cara penularan.
• Memperhatikan bayi – bayi yang dirawat.
• Memperhatikan kesehatan petugas.
• Merubah prosedur perawatan kulit dan tali pusat.
• Merubah cara membersihkan tangan dan antiseptik yang digunakan.
• Antimikroba profilaksis, seperti penisilin pada epidemi streptokokkus.
e. Menjaga temperatur dan mencegah kehilangan panas tubuh
Tubuh bayi baru lahir belum mampu untuk melakukan regulasi temperature tubuh sehingga jika penanganan pencegahan kehilangan panas tubuh dan lingkungan sekitar tidak disiapkan dengan baik, bayi tersebut dapat mengalami hipotermi yang dapat mengakibatkan bayi menjadi sakit atau mengalami gangguan fatal.
Mekanisme kehilangan panas tubuh yang dapat dialami oleh bayi dapat melalui 4 mekanisme yaitu :
(1) Mekanisme kehilangan panas secara evaporasi.
Mekanisme kehilangan panas secara evaporasi adalah proses kehilangan panas tubuh bayi dengan penguapan cairan pada permukaan tubuh bayi. Ketika bayi telah lahir, tubuh yang basah akan terpapar ke udara yang dingin diruang bersalin, kedinginan yang tiba – tiba ini menyebabkan bayi akan kehilangan panas tubuhnya dengan cepat, karena permukaan kulit tubuh sangat luas sehingga suhu dapat turun dengan cepat.
(2) Mekanisme kehilangan panas secara konduksi.
Tubuh bayi bersentuhan dengan permukaan yang temperaturnya lebih rendah. Contoh ke instrument yang dingin.
(3) Mekanisme kehilangan panas secara konveksi.
Tubuh bayi terpapar udara atau lingkungan bertemperatur dingin. Contoh seperti ke aliran udara yang dingin oleh kipas angin.
(4) Mekanisme kehilangan panas secara radiasi.
Pelepasan panas akibat adanya benda yang lebih dingin di dekat tubuh bayi. Contoh kedinding ruangan yang dingin.
Mencegah kehilangan panas tubuh bayi :
• Pastikan bayi tersebut tetap dalam keadaan hangat dan terjadi kontak antara kult bayi dengan kulit ibu.
• Mengganti handuk atau kain basah serta bungkus bayi dengan selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindung dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.
• Tempatkan bayi pada suhu lingkungan yang hangat dan tidak banyak hembusan angin dengan batasan normal suhu ruangan berkisar 36,5° C sampai 37° C.
• Jangan segera menimbang bayi tanpa penutup tubuh dan jangan segera memandikan bayi, tunggu minimal 6 jam setelah bayi lahir dengan suhu minimal 36,5° C.
f. Memahami manfaat kontak dini (termasuk asupan dini atau inisiai dini ASI) dan rawat gabung ibu dan bayi.
Pemberian inisiasi menyusu dini pada bayi baru lahir.
Seringkali ibu mengalami kesulitan untuk menyusui bayinya. Hal ini salah satunya adalah dikarenakan kegagalan atau tidak adanya IMD atau “Inisiasi Menyusui Dini” pada bayi yang baru lahir. Bidan dan dokter penolonglah yang seharusnya memiliki inisiatif ini. Selama ini kesalahan yang dilakukan adalah bahwa bayi yang baru lahir langsung dibersihkan, dibungkus dengan pakaian baru disusukan ke ibunya. Padahal sebenarnya bukan seperti itu cara yang tepat.
Definisi :
Memberikan kesempatan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir dengan meletakkan bayi di dada atau perut ibu dan kulit bayi melekat pada kulit ibu (skin to skin contact) setidaknya selama 1 – 2 jam sampai bayi menyusu sendiri.
Proses ini dapat menghindari kematian bayi dan juga penyakit – penyakit yang menyerangnya selama hidupnya. Menyusui dini sangat berpengaruh terhadap keselamatan, pertumbuhan dan perkembangan bayi. Menyusu secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, dengan makanan tambahan yang tepat dan terus menyusu dari usia 6 bulan sampai 2 tahun, dapat mengurangi sedikitnya 20% seluruh kematian bayi dan balita. Menyusu mencegah malnutrisi pada anak, suatu faktor yang mempengaruhi lebih dari setengah kematian bayi secara global, sehingga harus diupayakan perbaikan praktek menyusui agar dapat mengurangi kejadian malnutrisi dan kematian bayi secara efektif.
Inisiasi menyusu dini merupakan kontak kulit ibu dan bayi segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam. Dalam tindakan inisiasi menyusu dini ini bayi menggunakan naluri alamiahnya untuk melakukan inisiasi menyusu dini dan ibu tau bayinya siap untuk menyusui.
Dalam istilah yang lain, inisiasi menyusui dini disebut juga sebagai proses Breast Crawl. Dalam sebuah publikasi yang berjudul Breast Crawl : A Scientific Overview beberapa hal yang menyebabkan bayi mampu menemukan sendiri putting susu ibunya, dan mulai menyusui disebabkan oleh :
(1) Sensory inputs atau indera yang terdiri dari penciuman ; terhadap bau khas ibunya setelah melahirkan, penglihatan ; karena bayi baru lahir dapat mengenal pola hitam putih, bayi akan mengenali puting dan wilayah areola ibunya karena warna gelapnya. Berikutnya adalah indera pengecap; bayi mampu merasakan cairan amniotic yang melekat pada jari –jari tangannya, sehingga bayi pada saat baru lahir suka menjilati jarinya sendiri. Kemudian, dari indera pendengaran; sejak dari dalam kandungan suara ibu adalah suara yang paling dikenalnya. Dan yang terakhir dari indera perasa dengan sentuhan; sentuhan kulit ke kulit antara bayi dengan ibu adalah sensasi pertama yang member kehangatan, dan rangsangan lainnya.
(2) Central Component. Otak bayi yang baru lahir sudah siap untuk segera mengeksplorasi lingkungannya, dan lingkungan yang paling dikenalnya adalah tubuh ibunya. Rangsangan ini harus segera dilakukan, karena jika terlalu lama dibiarkan, bayi akan kehilangan kemampuan ini. Inilah yang menyebabkan bayi yang langsung dipisah dari ibunya, akan lebih sering menangis dari pada bayi yang langsung ditempelkan ke tubuh ibunya.
(3) Motor Outputs. Bayi yang merangkak di atas tubuh ibunya, merupakan gerak yang paling alamiah yang dapat dilakukan bayi setelah lahir. Selain berusaha mencapai puting ibunya, gerakan ini juga memberi banyak manfaat untuk sang ibu, misalnya mendorong pelepasan plasenta dan mengurangi perdarahan pada rahim ibu.
Melakukan IMD pada bayi merupakan pengalaman yang hanya terjadi sekali seumur hidup, dan menentukan keberhasilan ASI Eksklusif selama 6 bulan.
Sebaiknya pemberian praktek inisiasi dini dilakukan terlebih dahulu dengan menunda beberapa prosedur lain untuk bayi baru lahir normal seperti pemberian antibiotika salep mata, vitamin K1, menimbang, dan lain – lain, sehingga inisiasi menyusu dini selesai. Praktek inisiasi dini menyusu dini tidak hanya dilakukan pada pertolongan persalinan normal, tetapi juga persalinan dengan Caesar. Dibawah ini adalah tata laksana inisiasi menyusu dini di kamar operasi :
(a) Menjelaskan kepada ibu dan ayah mengenai inisia menyusu dini dan mengenali tanda – tanda dan perilaku sebelum menyusu sehingga ayah akan mendukung dan membantu meningkatkan percaya diri ibu.
(b) Dianjurkan ada keluarga mendampingi ibu saat operasi.
(c) Dalam menolong persalinan, sebaiknya menggunakan anaestesi epidural.
(d) Suhu dikamar operasi sebaiknya tidak terlalu dingin. Jika mungkin, diusahakan suhu ruangan 20° C sampai 25° C.
(e) Bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua tangan dan menghilangkan verniks.
(f) Bayi ditengkurapkan di dada ibu supaya terjadi kontak kulit bayi dengan kulit ibu. Keduanya diselimuti dari atas. Bayi diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepala.
(g) Bayi dibiarkan mencari sendiri puting susu Ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut bila bayi telah menunjukkan kesiapan (misalnyaterlihat menggerakkan kepala mendorong kaki, atau mengeluarkan air liur. Tetapi tidak memaksakan bayi ke puting ibu.
(h) Bila inisiasi menyusu dini belum terjadi dikamar operasi, bayi tetap diletakkan di dada ibu waktu dipindahkan kekamar pemulihan. Usaha menyusu dini dilanjutkan dikamar perawatan bayi.
(i) Bayi baru dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dicap, setelah menyusu awal selesai. Prosedur invasif, seperti suntikan vitamin K1 dan meneteskan mata bayi ditunda.
(j) Ibu dan bayi tetap tidak dipisahkan selama 24 jam, dirawat gabung, serta pemberian minum prelakteal dihindarkan.
Keuntungan praktek inisiasi menyusu dini pada bayi baru lahir diantaranya adalah :
1. Mengurangi infeksi dengan member kekebalan pasif maupun aktif pada bayi.
2. Kolostrum akan lebih cepat keluar dan ASI merupakan makanan dengan kualitas dan kuantitas optimal sesuai dengan kebutuhan bayi.
3. Segera memberikan kekebalan pasif pada bayi karena kolostrum merupakan imunisasi pertama pada bayi. Cairan ini dinamakan the gift of life.
4. Memudahkan pelaksanaan ASI ekslusif yang akan meningkatkan kecerdasan. Bayi yang diberikan kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusui eksklusif dan akan lebih lama disusui.
5. Membantu bayi mengkoordinasikan kemampuan menghisap, menelan dan bernapas. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi.
6. Meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayinya. Bounding (ikatan kasih sayang) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada 1 – 2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.
7. Mencegah kehilangan panas tubuh bayi. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara ibu. Ini akan menurunkan kematian karena kedinginan (hipotermi).
8. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi.
9. Hentakan kepala bayi di dada ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu dan sekitarnya, emutan dan jilatan bayi pada puting susu ibu merangsang pengeluaran hormone oksitosin.
10. Ibu dan ayah akan merasa sangat bahagia bertemu dengan bayinya untuk pertama kalinya dalam kondisi seperti ini. Bahkan, ayah mendapatkan kesempatan mengazankan bayinya di dada ibunya. Suatu pengalaman batin bagi ketiganya yang amat indah.




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diagnosis bayi baru lahir pada dasarnya berguna untuk mencari atau mendeteksi sedini mungkin adanya kelainan pada janin. Kegagalan untuk mendeteksi kelainan janin dapat menimbulkan masalah pada jam – jam pertama kehidupan bayi diluar rahim. Dengan mengetahui kelainan pada janin dapat membantu untuk mengambil tindakan serta memberikan asuhan keperawatan yang tepat sehingga dapat membantu bayi baru lahir sehat untuk tetap sehat sejak awal kehidupannya.
Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke ekstrauterin dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi, mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir normal. Penatalaksanaan dan mengenali kondisi kesehatan bayi baru lahir resiko tinggi yang mana memerlukan pelayanan rujukan/ tindakan lanjut.

B. Saran
1. Setelah memahami tentang bayi baru lahir tentunya bisa dilakukan penerapan yang baik untuk dapat melakukan pemeriksaan yang spesifik pada bayi baru lahir sehingga dapat menetapkan diagnosis yang benar agar dapat dilakukan perawatan yang lebih intensif jika ditemukan adanya masalah.
2. semua tenaga kesehatan dapat bekerja sama untuk dapat memberikan perawatan yang benar terkait dengan bayi baru lahir.





DAFTAR PUSTAKA

Behrman,dkk.(2000).Ilmu kesehatan Anak Nelson Vol 3.Jakarta: EGC
Farrer, Helen.(1999). Perawatan Maternitas: Ed. 2. Jakarta : EGC.
Winknjsastro, Hanifa.(2005).Ilmu Kebidanan Ed 3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwon Prawirohardjo
Ngastiyah, (1997). “Perawatan Anak Sakit”. Jakarta : EGC
Staf Pengajar IKA-FKUI, (1985). “Ilmu Kesehatan Anak”. Jakarta : Infomedika










Selasa, 01 Maret 2011

DISAAT IMPIAN BELUM TERWUJUD…

Setiap orang pasti memiliki impian dan cita-cita. Berbagai usaha pun dikerahkan untuk mencapai impian tersebut. Namun kadang usaha untuk menggapai impian kandas di tengah jalan dikarenakan berbagai rintangan dari dalam maupun dari luar. Tentu saja impian yang kami maksudkan di sini adalah impian yang logis yang bisa dicapai dan bukan hanya khayalan di negeri antah berantah. Di saat impian tadi belum terwujud, bagaimanakah cara untuk menggapainya? Semoga tulisan ini bisa memberikan solusi terbaik.

PAHAMILAH TAKDIR ILAHI
“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)
Jika seseorang mengimani takdir ini dengan benar, maka ia pasti akan memperoleh kebaikan yang teramat banyak. Ibnul Qayyim mengatakan :
“Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” (Al Fawaid, hal. 94)

Terus Tawakkal dan Berusaha Semaksimal Mungkin
Kita harus punya sifat optimis dengan selalu bertawakkal (menyandarkan hati pada Allah) dan tetap berusaha untuk menggapai impian yang kita cita-citakan. Ingatlah bahwa siapa saja yang bertakwa dan bertawakkal pada Allah Ta'ala dengan sebenar-benarnya, maka pasti Allah Ta'ala akan memberikan ia jalan keluar dan akan memberikan ia selalu kecukupan. Allah Ta'ala berfirman :
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Teruslah Memohon pada Allah

Untuk mewujudkan impian, janganlah lupakan Yang Di Atas. Kadang kita lalai dan hanya bergantung pada diri kita sendiri yang lemah dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Maka perbanyaklah do'a. Karena setiap do'a pastilah bermanfaat. Allah Ta'ala berfirman,

ا“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu'min: 60)

Jika ada yang bertanya, “Aku sudah seringkali berdo'a, namun mengapa impianku belum tercapai juga?” Kami bisa memberi jawaban sebagai berikut:

Pertama: Do'a boleh jadi terkabul, namun kita saja yang tidak mengetahui bentuk terkabulnya. Terkabulnya do'a bisa jadi dengan dipalingkan dari kejelekan dari do'a yang kita minta. Dan boleh jadi Allah simpan terkabulnya do'a tadi di akhirat kelak

Kedua: Terkabulnya do'a boleh jadi diakhirkan agar seseorang tetap giat dan bersemangat dalam berdo'a. Ketika ia giat berdo'a, maka ia pun akan mendapatkan ketinggian derajat di akhirat kelak. Cobalah kita perhatikan apa yang terjadi pada para Nabi 'alaihimush sholaatu wa salaam. Mereka terus saja berdo'a dan memperbanyak do'a, namun terkabulnya do'a mereka diakhirkan agar mereka tetap semangat dalam berdo'a. Di antara contohnya adalah Nabi Ayyub 'alaihis salam yang diberi cobaan penyakit selama 18 tahun sehingga ia pun dijauhi kerabat dan yang lainnya. Namun ia tetap terus berdo'a dan berdo'a. Allah pun memujinya karena kesabarannya tersebut,

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (QS. Shaad: 44)

Ketiga: Boleh jadi do'a tersebut sulit terkabul karena beberapa faktor penghalang. Di antara faktor penghalang adalah seseorang mengangkat tangan ke langit, namun ia sering mengkonsumsi makanan, minuman dan menggunakan pakaian yang haram atau diperoleh dari hasil yang haram (sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Muslim no. 1015, dari Abu Hurairah). Inilah yang membuat do'a seseorang sulit terkabul. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita rajin mengintrospeksi diri, siapa tahu do'a kita tidak kunjung terkabul karena sebab mengkonsumsi yang haram.
Teruslah berusaha, memohon pada Allah, dan janganlah putus asa.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim no. 2664, dari Abu Hurairah)

Jadikanlah impian kita semata-mata untuk tujuan akhirat dan bukan dunia semata. Jika ingin meraih kekayaan, jadikanlah ia sebagai amal sholih untuk tujuan akhirat.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465, shahih)
Ketika impian tercapai, maka perbanyaklah syukur pada Allah dengan selalu taat dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Lihatlah bagaimana do'a Ibrahim ketika di usia senja ia masih diberi keturunan.
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39).
Ada ulama yang mengatakan bahwa ketika Isma'il lahir, usia Ibrahim 99 tahun dan ketika Ishaq lahir, usia beliau 112 tahun

Artikel http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2951-di-saat-impian-belum-terwujud.html

Selasa, 22 Februari 2011

MTBS = ICMI

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Bila angka ini dikonversikan secara matematis, maka setidaknya terjadi 400 kematian bayi perhari atau 17 kematian bayi setiap 1 jam di seluruh Indonesia, sedangkan Angka Kematian Balita (AKBAL) sebesar 44/1000 kelahiran hidup yang berarti terjadi 529 kematian/hari atau 22 kematian balita setiap jamnya. Bila kita mencoba menghitung lebih jauh lagi, berarti terjadi lebih dari 15.000 kematian balita setiap bulannya, apakah jumlah ini tidak melebihi jumlah korban akibat bencana alam? Bila kejadian bencana alam selalu menghebohkan kita, mengapa kematian anak balita dan bayi seolah menjadi hal biasa?
Apa saja penyebab kematian bayi dan balita? Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, ada beberapa penyakit utama yang menjadi penyebab kematian bayi dan balita. Pada kelompok bayi (0-11 bulan), dua penyakit terbanyak sebagai penyebab kematian bayi adalah penyakit diare sebesar 31,4% dan pneumonia 24%, sedangkan untuk balita, kematian akibat diare sebesar 25,2%, pneumonia 15,5%, Demam Berdarah Dengue (DBD) 6,8% dan campak 5,8%.
Penyakit-penyakit penyebab kematian tersebut pada umumnya dapat ditangani di tingkat Rumah Sakit dan Puskesmas perawatan namun masih sulit untuk ukuran Puskesmas non-perawatan. Hal ini disebabkan antara lain karena masih minimnya sarana/peralatan, alat diagnostik, obat-obatan dan ketersediaan SDM di tingkat Puskesmas terutama Puskesmas non-perawatan dan Puskesmas di daerah terpencil, selain itu seringkali Puskesmas tidak memiliki tenaga dokter yang siap di tempat setiap saat. Padahal, Puskesmas merupakan ujung tombak fasilitas kesehatan yang paling diandalkan di tingkat kecamatan. Kenyataan lain di banyak provinsi, keberadaan Rumah Sakit pada umumnya hanya ada sampai tingkat kabupaten/kota sedangkan masyarakat Indonesia banyak tinggal di pedesaan.
Kendala seperti tersebut di atas banyak terjadi di negara-negara berkembang. Berpijak dari hal tersebut, WHO dan UNICEF telah mengembangkan suatu strategi/pendekatan yang dinamakan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI). Indonesia telah mengadopsi pendekatan MTBS sejak tahun 1996 dan implementasinya dimulai tahun 1997. Salah satu kegiatan awal yang penting pada waktu itu adalah mengadaptasi Modul MTBS WHO melalui kerjasama dengan WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sehingga menghasilkan 1 set generik Modul MTBS versi Indonesia. Setelah itu Modul MTBS mengalami revisi beberapa kali sesuai dengan perkembangan situasi penyakit dan kebijakan pengobatan di Indonesia. Modul MTBS yang dipakai sekarang (last update) adalah Modul revisi tahun 2008.
Saat ini penerapan MTBS telah mencakup 33 provinsi namun belum semua Puskesmas dapat menerapkannya karena berbagai kendala antara lain: terbatasnya jumlah tenaga kesehatan yang dapat dilatih MTBS, perpindahan (mutasi) tenaga kesehatan yang telah dilatih, kurang lengkapnya sarana dan prasarana pendukung, dsb. Sebagai gambaran, jumlah Puskesmas di seluruh Indonesia ada sekitar 7500 Puskesmas (data Depkes tahun 2006), untuk menerapkan MTBS perlu dilatih 2 orang tenaga kesehatan di setiap Puskesmas. Dalam 1 kali penyelenggaraan pelatihan MTBS kita dapat melatih 30-40 tenaga kesehatan yang dibagi dalam 3-4 kelas dengan lama pelatihan 6 hari. Apabila dalam 1 tahun Depkes (pusat) hanya menyelenggarakan pelatihan MTBS 10 kali saja (jumlah ini sudah termasuk banyak, mungkin kurang dari itu), maka berarti Depkes hanya dapat meng-cover sekitar 300-400 tenaga kesehatan/tahun atau sekitar 5 % saja yang dapat dilatih MTBS. Belum lagi bila dikurangi jumlah tenaga kesehatan yang pindah atau pensiun maka jumlah itu sangat tidak memadai. Oleh karena itu Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota harus menjadi pemeran utama dalam pelatihan MTBS agar seluruh Puskesmas di wilayahnya dapat menerapkan MTBS. Caranya dengan memperbanyak jumlah pelatihan MTBS sesuai kebutuhan Puskesmas di wilayahnya.


B. TUJUAN
Untuk mengetahui definisi MTBS
Untuk mengetahui sejarah MTBS diindonesia
Untuk mengetahui latar belakang MTBS diindonesia
Untuk mengetahui MTBS sangat cocok diterapkan dipuskesmas
Untuk mengetahui MTBS adalah suatu system
Untuk memahami penatalaksanaan balita sakit dengan pendekatan MTBS
Untuk memahami bagaimana cara penilaian anak sakit






















BAB II
I S I
DEFINISI MTBS
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita sakit. Konsep pendekatan MTBS yang pertama kali diperkenalkan oleh WHO merupakan suatu bentuk strategi upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kematian, kesakitan dan kecacatan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang.
Pendekatan MTBS di Indonesia pada awalnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu, Polindes, Poskesdes, dll). Upaya ini tergolong lengkap untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yang sering menyebabkan kematian bayi dan balita di Indonesia. Dikatakan lengkap karena meliputi upaya preventif (pencegahan penyakit), perbaikan gizi, upaya promotif (berupa konseling) dan upaya kuratif (pengobatan) terhadap penyakit-penyakit dan masalah yang sering terjadi pada balita.
Strategi MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
1. Komponen I: Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit (selain dokter, petugas kesehatan non-dokter dapat pula memeriksa dan menangani pasien asalkan sudah dilatih).
2. Komponen II: Memperbaiki sistem kesehatan (utamanya di tingkat kabupaten/kota).
3. Komponen III: Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan keluarga dan masyarakat), yang dikenal sebagai 'MTBS berbasis Masyarakat.'

SEJARAH PENERAPAN MTBS DI INDONESIA
Strategi MTBS mulai diperkenalkan di Indonesia oleh WHO pada tahun 1996. Pada tahun 1997 Depkes RI bekerjasama dengan WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan adaptasi modul MTBS WHO. Modul tersebut digunakan dalam pelatihan pada bulan November 1997 dengan pelatih dari SEARO. Sejak itu penerapan MTBS di Indonesia berkembang secara bertahap dan up-date modul MTBS dilakukan secara berkala sesuai perkembangan program kesehatan di Depkes dan ilmu kesehatan anak melalui IDAI.
Hingga akhir tahun 2009, penerapan MTBS telah mencakup 33 provinsi, namun belum seluruh Puskesmas mampu menerapkan karena berbagai sebab: belum adanya tenaga kesehatan di Puskesmasnya yang sudah terlatih MTBS, sudah ada tenaga kesehatan terlatih tetapi sarana dan prasarana belum siap, belum adanya komitmen dari Pimpinan Puskesmas, dll. Menurut data laporan rutin yang dihimpun dari Dinas Kesehatan provinsi seluruh Indonesia melalui Pertemuan Nasional Program Kesehatan Anak tahun 2010, jumlah Puskesmas yang melaksanakan MTBS hingga akhir tahun 2009 sebesar 51,55%. Puskesmas dikatakan sudah menerapkan MTBS bila memenuhi kriteria sudah melaksanakan (melakukan pendekatan memakai MTBS) pada minimal 60% dari jumlah kunjungan balita sakit di Puskesmas tersebut.
LATAR BELAKANG PERLUNYA PENERAPAN MTBS DI INDONESIA
Menurut data hasil Survei yang dilakukan sejak tahun 1990-an hingga saat ini (SKRT 1991, 1995, SDKI 2003 dan 2007), penyakit/masalah kesehatan yang banyak menyerang bayi dan anak balita masih berkisar pada penyakit/masalah yang kurang-lebih sama yaitu gangguan perinatal, penyakit-penyakit infeksi dan masalah kekurangan gizi.
Penyebab kematian neonatal (bayi berusia 0-28 hari) menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel proporsi penyebab kematian neonatal di Indonesia tahun 2007
Sumber: Badan Litbangkes, Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2007

Sedangkan penyebab kematian bayi dan anak balita menurut Riskesdas 2007, pada kelompok bayi (29 hari - 11 bulan) dan kelompok anak balita (12 bulan - 59 bulan) ada dua penyebab kematian tersering yaitu diare dan pneumonia. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.


Tabel proporsi penyebab kematian bayi dan anak balita di Indonesia tahun 2007
Sumber: Badan Litbangkes, Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2007

Penyakit-penyakit penyebab kematian tersebut pada umumnya dapat ditangani di tingkat Rumah Sakit, namun masih sulit untuk tingkat Puskesmas. Hal ini disebabkan antara lain karena masih minimnya sarana/peralatan diagnostik dan obat-obatan di tingkat Puskesmas terutama Puskesmas di daerah terpencil yang tanpa fasilitas perawatan, selain itu seringkali Puskesmas tidak memiliki tenaga dokter yang siap di tempat setiap saat. Padahal, Puskesmas merupakan ujung tombak fasilitas kesehatan yang paling diandalkan di tingkat kecamatan. Kenyataan lain di banyak provinsi, keberadaan Rumah Sakit pada umumnya hanya ada sampai tingkat kabupaten/kota sedangkan masyarakat Indonesia banyak tinggal di pedesaan.
Berdasarkan kenyataan (permasalahan) di atas, pendekatan MTBS dapat menjadi solusi yang jitu apabila diterapkan dengan benar (ketiga komponen diterapkan dengan maksimal). Pada sebagian besar balita sakit yang dibawa berobat ke Puskesmas, keluhan tunggal jarang terjadi. Menurut data WHO, tiga dari empat balita sakit seringkali memiliki beberapa keluhan lain yang menyertai dan sedikitnya menderita 1 dari 5 penyakit tersering pada balita yang menjadi fokus MTBS. Hal ini dapat diakomodir oleh MTBS karena dalam setiap pemeriksaan MTBS, semua aspek/kondisi yang sering menyebabkan keluhan anak akan ditanyakan dan diperiksa.
Menurut laporan Bank Dunia (1993), MTBS merupakan jenis intervensi yang paling cost effective yang memberikan dampak terbesar pada beban penyakit secara global. Bila Puskesmas menerapkan MTBS berarti turut membantu dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan dan membuka akses bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang terpadu. Oleh karena itu, bila anda membawa anak balita berobat ke Puskesmas, tanyakanlah apakah tersedia pelayanan MTBS di Puskesmas itu? bila ada, mintalah dilayani memakai pendekatan MTBS.

MTBS SANGAT COCOK DITERAPKAN DI PUSKESMAS
Pada sebagian besar balita sakit yang dibawa berobat ke Puskesmas, keluhan tunggal kemungkinan jarang terjadi, menurut data WHO, tiga dari empat balita sakit seringkali memiliki banyak keluhan lain yang menyertai dan sedikitnya menderita 1 dari 5 penyakit tersering pada balita yang menjadi fokus MTBS. Pendekatan MTBS dapat mengakomodir hal ini karena dalam setiap pemeriksaan MTBS, semua aspek/kondisi yang sering menyebabkan keluhan anak akan ditanyakan dan diperiksa.
Menurut laporan Bank Dunia (1993), MTBS merupakan jenis intervensi yang cost effective yang memberikan dampak terbesar pada beban penyakit secara global. Bila Puskesmas menerapkan MTBS berarti turut membantu dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan dan membuka akses bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang terpadu. Oleh karena itu, bila anda membawa anak balita berobat ke Puskesmas, tanyakanlah apakah tersedia pelayanan MTBS disana.
MTBS SEBAGAI SUATU SISTEM
MTBS dalam kegiatan di lapangan khususnya di Puskesmas merupakan suatu system yang mem permudah pelayanan serta meningkatkan mutu pelayanan. Tabel di bawah ini dapat dilihat penjelasan MTBS merupakan suatu sistem.

1. Input
Balita sakit datang bersama kelaurga diberikan status pengobatan dan formulir MTBS Tempat dan petugas : Loket, petugas kartu
2. Proses
• Balita sakit dibawakan kartu status dan formulir MTBS.
• Memeriksa berat dan suhu badan.
• Apabila batuk selalu mengitung napas, melihat tarikan dinding dada dan mendengar stridor.
• Apabila diare selalu memeriksa kesadaran balita, mata cekung, memberi minum anak untuk melihat apakah tidak bias minum atau malas dan mencubit kulit perut untuk memeriksa turgor.
• Selalu memerisa status gizi, status imunisasi dan pemberian kapsul Vitamin A
Tempat dan petugas : Ruangan MTBS, case manager
3.Output
Klasifikasi yang dikonversikan menjadi diagnosa, tindakan berupa pemberian terapi dan konseling berupa nasehat pemberian makan, nasehat kunjungan ulang, nasehat kapan harus kembali segera. Konseling lain misalnya kesehatn lingkungan, imunisasi, Konseling cara perawatan di rumah. Rujukan diperlukan jika keadaan balita sakit membutuhkan rujukan Tempat dan petugas : Ruangan MTBS, case manager.
PENATALAKSANA BALITA SAKIT DENGAN PENDEKATAN MTBS
Berikut ini gambaran singkat penanganan balita sakit memakai pendekatan MTBS. Seorang balita sakit dapat ditangani dengan pendekatan MTBS oleh Petugas kesehatan yang telah dilatih. Petugas memakai tool yang disebut Algoritma MTBS untuk melakukan penilaian/pemeriksaan dengan cara: menanyakan kepada orang tua/wali, apa saja keluhan-keluhan/masalah anak kemudian memeriksa dengan cara 'lihat dan dengar' atau 'lihat dan raba'. Setelah itu petugas akan mengklasifikasikan semua gejala berdasarkan hasil tanya-jawab dan pemeriksaan. Berdasarkan hasil klasifikasi, petugas akan menentukan jenis tindakan/pengobatan, misalnya anak dengan klasifikasi Pneumonia Berat atau Penyakit Sangat Berat akan dirujuk ke dokter Puskesmas, anak yang imunisasinya belum lengkap akan dilengkapi, anak dengan masalah gizi akan dirujuk ke ruang konsultasi gizi, dst.
Gambaran tentang begitu sistematis dan terintegrasinya pendekatan MTBS dapat dilihat pada item di bawah ini tentang hal-hal yang diperiksa pada pemeriksaan dengan pendekatan MTBS. Ketika anak sakit datang ke ruang pemeriksaan, petugas kesehatan akan menanyakan kepada orang tua/wali secara berurutan, dimulai dengan memeriksa tanda-tanda bahaya umum seperti:
• Apakah anak bisa minum/menyusu?
• Apakah anak selalu memuntahkan semuanya?
• Apakah anak menderita kejang?
Kemudian petugas akan melihat/memeriksa apakah anak tampak letargis/tidak sadar?
Setelah itu petugas kesehatan akan menanyakan keluhan utama lain:
• Apakah anak menderita batuk atau sukar bernafas?
• Apakah anak menderita diare?
• Apakah anak demam?
• Apakah anak mempunyai masalah telinga?
• Memeriksa status gizi
• Memeriksa anemia
• Memeriksa status imunisasi
• Memeriksa pemberian vitamin A
• Menilai masalah/keluhan-keluhan lain
Berdasarkan hasil penilaian hal-hal tersebut di atas, petugas akan mengklasifikasi keluhan/penyakit anak, setelah itu melakukan langkah-langkah tindakan/pengobatan yang telah ditetapkan dalam penilaian/klasifikasi. Tindakan yang dilakukan antara lain:
• Mengajari ibu cara pemberian obat oral di rumah
• Mengajari ibu cara mengobati infeksi lokal di rumah
• Menjelaskan kepada ibu tentang aturan-aturan perawatan anak sakit di rumah, misal aturan penanganan diare di rumah
• Memberikan konseling bagi ibu, misal: anjuran pemberian makanan selama anak sakit maupun dalam keadaan sehat
• Menasihati ibu kapan harus kembali kepada petugas kesehatan
• dan lain-lain
Selain itu di dalam MTBS terdapat penilaian dan klasifikasi bagi Bayi Muda berusia kurang dari 2 bulan, yang disebut juga Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM). Penilaian dan klasifikasi bayi muda di dalam MTBM terdiri dari:
• Menilai dan mengklasifikasikan untuk kemungkinan penyakit sangat berat atau infeksi bakteri
• Menilai dan mengklasifikasikan diare
• Memeriksa dan mengklasifikasikan ikterus
• Memeriksa dan mengklasifikasikan kemungkinan berat badan rendah dan atau masalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Yang menarik disini, diuraikan secara terperinci cara mengajari ibu tentang cara meningkatkan produksi ASI, cara menyusui yang baik, mengatasi masalah pemberian ASI secara sistematis dan terperinci, cara merawat tali pusat, menjelaskan kepada ibu tentang jadwal imunisasi pada bayi kurang dari 2 bulan, menasihati ibu cara memberikan cairan tambahan pada waktu bayinya sakit, kapan harus kunjungna ulang, dll.
• Memeriksa status penyuntikan vitamin K1 dan imunisasi.
• Memeriksa masalah dan keluhan lain.

CONTOH PENILAIAN ANAK SAKIT
Penilaian pertama yang dilakukan terhadap balita sakit adalah memeriksa tanda bahaya umum, bila ditemukan satu atau lebih tanda-tanda bahaya umum maka diklasifikasikan sebagai 'penyakit sangat berat'. Kemudian dilanjutkan penilaian keluhan utama yang dimulai dengan pertanyaan 'apakah anak menderita baruk atau sukar bernafas?' Bila ya, maka dihitung frekuensi nafas anak permenit, memeriksa tanda-tanda pneumonia berupa adanya tarikan dinding dada kedalam dan stridor. Penilaian: bila ada tanda bahaya umum diikuti adanya tarikan dinding dada kedalam dan adanya stridor maka anak diklasifikasikan sebagai 'pneumonia berat atau penyakit sangat berat'. Bila hanya ada nafas cepat maka diklasifikasikan sebagai 'pneumonia', tetapi bila tidak ada tanda-tanda pneumonia atau penyakit sangat berat maka diklasifikasikan sebagai 'batuk: bukan pneumonia'. Selanjutnya menilai diare, demam, dst.





BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita sakit. Konsep pendekatan MTBS yang pertama kali diperkenalkan oleh WHO merupakan suatu bentuk strategi upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kematian, kesakitan dan kecacatan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang.
betapa sistematis, terperinci dan terintegrasinya penatalaksanaan balita sakit dengan pendekatan MTBS. Semuanya tentu tidak dapat diuraikan disini karena memerlukan puluhan halaman. Sebagai gambaran, untuk melakukan penilaian dan tindakan/pengobatan bagi setiap balita sakit, pendekatan MTBS memakai 1 set Bagan Dinding yang ditempelkan di tembok ruang pemeriksaan dan dapat memenuhi semua sisi tembok ruang pemeriksaan MTBS di Puskesmas dan formulir pencatatan baik bagi bayi muda (0-2 bulan) maupun balita umur 2 bulan - 5 tahun. Sedangkan untuk pelatihan petugas, diperlukan 1 paket buku yang terdiri dari 7 buku Modul, 1 buku Foto, 1 buku Bagan, 1 set bagan dinding serta 1 set buku Pedoman Fasilitator dengan lama pelatihan selama 7 hari ditambah pelajaran pada sesi malam.
B. SARAN
Saat ini penerapan MTBS telah mencakup 33 provinsi namun belum semua Puskesmas dapat menerapkannya karena berbagai kendala antara lain: terbatasnya jumlah tenaga kesehatan yang dapat dilatih MTBS, perpindahan (mutasi) tenaga kesehatan yang telah dilatih, kurang lengkapnya sarana dan prasarana pendukung, dsb. Sebagai gambaran, jumlah Puskesmas di seluruh Indonesia ada sekitar 7500 Puskesmas (data Depkes tahun 2006), untuk menerapkan MTBS perlu dilatih 2 orang tenaga kesehatan di setiap Puskesmas. Dalam 1 kali penyelenggaraan pelatihan MTBS kita dapat melatih 30-40 tenaga kesehatan yang dibagi dalam 3-4 kelas dengan lama pelatihan 6 hari. Apabila dalam 1 tahun Depkes (pusat) hanya menyelenggarakan pelatihan MTBS 10 kali saja (jumlah ini sudah termasuk banyak, mungkin kurang dari itu), maka berarti Depkes hanya dapat meng-cover sekitar 300-400 tenaga kesehatan/tahun atau sekitar 5 % saja yang dapat dilatih MTBS. Belum lagi bila dikurangi jumlah tenaga kesehatan yang pindah atau pensiun maka jumlah itu sangat tidak memadai. Oleh karena itu Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota harus menjadi pemeran utama dalam pelatihan MTBS agar seluruh Puskesmas di wilayahnya dapat menerapkan MTBS. Caranya dengan memperbanyak jumlah pelatihan MTBS sesuai kebutuhan Puskesmas di wilayahnya.