Kamis, 17 Maret 2011

PENGKAJIAN BAYI BARU LAHIR (BBL)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir dengan kehamilan atau masa gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu 36 – 40 minggu. Bayi baru lahir normal harus menjalani proses adaptasi dari kehidupan di dalam rahim (intrauterine) ke kehidupan di luar rahim (ekstrauterin). Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke ekstrauterin dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi, mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir normal. Penatalaksanaan dan mengenali kondisi kesehatan bayi baru lahir resiko tinggi yang mana memerlukan pelayanan rujukan/ tindakan lanjut.
Salah satu masalah yang sering ditemukan pada bayi yaitu bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) maupun bayi kurang bulan (BKB ) merupakan masalah utama di negara berkembang termasuk Indonesia.
BBLR sampai saat ini masih merupakan masalah di Indonesia, karena merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa neonatal. Menurut SKRT 2001, 29 % kematian neonatal karena BBLR.
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.
Masalah yang sering timbul sebagai penyulit BBLR adalah hipotermi, hiperbilirubinemia, hipoglikemi, infeksi / sepsis dan ganguan minum. Dengan banyaknya penyulit pada BBLR, kita harus dapat mencegahnya mulai dari meningkatkan pengetahuan ibu tentang BBLR dan langkah – langkah untuk mencegah hal tersebut.
Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 – 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan, karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kenadungan dapat hidup sebaik – baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Peralihan dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan fungsi.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran secara umum tentang asuhan keperawatan pada bayi baru lahir serta pada bayi dengan berat badan lahir rendah.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu memahami tentang bayi baru lahir serta gangguan yang mungkin terjadi pada bayi baru lahir.
b. Mampu mengidentifikasi penilaian awal dan langkah esensial bayi baru lahir.
c. Mampu melaksanakan pengkajian terkait dengan bayi baru lahir.


BAB II
ISI

A. Tinjauan Teoritis
1. Defenisi bayi baru lahir normal
Bayi baru lahir normal (BBLN) adalah bayi yang baru lahir dengan usia kehamilan atau masa gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu 36 – 40 minggu. Bayi baru lahir normal harus menjalani proses adaptasi dari kehidupan di dalam rahim ke kehidupan di luar rahim. Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke luar rahim dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi, mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir.
2. Penilaian awal dan langkah esensial bayi baru lahir
a. Penilaian awal bayi baru lahir
Penilaian awal dilakukan pada bayi baru lahir untuk menilai kondisi bayi apakah :
- Bayi dinyatakan cukup bulan jika usia gestasinya lebih kurang 36 – 40 minggu.
Maturitas bayi mempengaruhi kemampuannya untuk beradaptasi di luar rahim (uterus)
- Air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium.
Tinja bayi pada 24 jam pertama kelahiran hingga 2 atau 3 hari berbentuk mekonium yang berwarna hijau tua yang berada di dalam usus bayi sejak dalam kandungan ibu. Mekonium mengandung sejumlah cairan amnion, verniks, sekresi saluran pencernaan, empedu, lanugo dan zat sisa dari jaringan tubuh.
- Bayi menangis atau bernapas.
Sebagian besar bayi bernapas spontan. Perhatikan dalamnya pernapasan, frekuensi pernapasan, apnea, napas cuping hidung, retraksi otot dada. Dapat dikatakan normal bila frekuensi pernapasan bayi jam pertama berkisar 80 kali permenit dan bayi segera menangis kuat pada saat lahir.
- Tonus otot bayi baik atau bayi bergerak aktif.
Pada saat lahir otot bayi lembut dan lentur. Otot – otot tersebut memiliki tonus, kemampuan untuk berkontraksi ketika ada rangsangan, tetapi bayi kurang mempunyai kemampuan untuk mengontrolnya. Sistem neurologis bayi secara anatomi dan fisiologis belum berkembang sempurna, sehingga bayi menunjukkan gerakan – gerakan tidak terkoordinasi, control otot yang buruk, mudah terkejut, dan tremor pada ekstremitas.
- Warna kulit bayi normal.
Perhatikan warna kulit bayi apakah warna merah muda, pucat, kebiruan, atau kuning, timbul perdarahan dikulit atau adanya edema. Warna kulit bayi yang normal, bayi tampak kemerah – merahan. Kulit bayi terlihat sangat halus dan tipis, lapisan lemak subkutan belum melapisi kapiler. Kemerahan ini tetap terlihat pada kulit dengan pigmen yang banyak sekalipun dan bahkan menjadi lebih kemerahan ketika bayi menangis.
b. Diagnosis bayi baru lahir
Diagnosis bayi baru lahir pada dasarnya berguna untuk mencari atau mendeteksi sedini mungkin adanya kelainan pada janin. Kegagalan untuk mendeteksi kelainan janin dapatt menimbulkan masalah pada jam – jam pertama kehidupan bayi diluar rahim. Dengan mengetahui kelainan pada janin dapat membantu untuk mengambil tindakan serta memberikan asuhkan keperawatan yang tepat sehingga dapat membantu bayi baru lahir sehat untuk tetap sehat sejak awal kehidupannya.
Penilaian bayi pada kelahiran adalah untuk mengetahui derajat vitalitas fungsi tubuh. Derajat vitalitas adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat essensial dan kompleks untuk kelangsungan hidup bayi seperti pernapasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan refleks – refleks primitive seperti menghisap dan mencari putting susu. Bila tidak ditangani secara tepat, cepat dan benar keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat dan bahkan mungkin meninggal. Pada beberapa bayi mungkin dapat pulih kembali dengan spontan dalam 10 – 30 menit sesudah lahir namun bayi tetap mempunyai resiko tinggi untuk cacat.
Umumnya penilaian pada bayi baru lahir dipakai nilai APGAR (APGAR Score). Pertemuan SAREC tahun 1985 menganjurkan penggunaan parameter penilaian bayi baru lahir dengan cara sederhana yang disebut SIGTUNA (SIGTUNA Score) sesuai dengan nama tempat terjadinya konsensus. Penilaian cara ini terutama untuk tingkat pelayanan kesehatan dasar karena hanya menilai dua parameter yang essensial.
Penilaian derajat vitalitas bayi baru lahir dapat juga digunakan penilaian secara APGAR. Pelaksanaannya cukup kompleks karena pada saat bersamaan penolong persalinan harus menilai lima parameter yaitu denyut jantung, usaha napas, tonus otot, gerakan dan warna kulit. Dari hasil penelitian di Amerika Serikat nilai APGAR sangat bermanfaat untuk mengenal bayi resiko tinggi yang potensial untuk kematian dan kecacatan neurologis jangka panjang. Dari lima variable nilai APGAR hanya pernapasan dan denyut jantung yang berkaitan erat dengan terjadinya hipoksia dan anoksia. Ketiga variabel lain lebih merupakan indicator maturitas tumbuh kembang bayi.
Penilaian APGAR skor ditemukan oleh Dr. Virginia Apgar (1950). Penilaian APGAR skor ini dilakukan pada menit pertama kelahiran untuk member kesempatan kepada bayi memulai perubahan kemudian menit ke-5 serta pada menit ke-10. Penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yang rendah dan perlu tindakan resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi morbiditas pada masa mendatang, nilai yang rendah berhubungan dengan kondisi neurologis.

SKOR APGAR

TANDA 0 1 2
Appearance Biru,pucat Badan pucat,tungkai biru Semuanya merah muda
Pulse Tidak teraba < 100 > 100
Grimace Tidak ada Lambat Menangis kuat
Activity Lemas/lumpuh Gerakan sedikit/fleksi tungkai Aktif/fleksi tungkai baik/reaksi melawan
Respiratory Tidak ada Lambat, tidak teratur Baik, menangis kuat

Prosedur penilaian APGAR
• Pastikan pencahayaan baik
• Catat waktu kelahiran, nilai APGAR pada 1 menit pertama dg cepat & simultan. Jumlahkan hasilnya
• Lakukan tindakan dg cepat & tepat sesuai dg hasilnya
• Ulangi pada menit kelima
• Ulangi pada menit kesepuluh
• Dokumentasikan hasil & lakukan tindakan yg sesuai
Penilaian
o Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2
o Nilai tertinggi adalah 10
• Nilai 7-10 menunjukkan bahwa by dlm keadaan baik
• Nilai 4 - 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang & membutuhkan tindakan resusitasi
• Nilai 0 – 3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius & membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi

c. Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir normal
Dalam waktu 24 jam setelah bayi lahir lakukan pemeriksaan fisik pada bayi. Ketika melakukan pemeriksaan fisik pada bayi lahir normal hal- hal yang harus diperhatikan oleh petugas adalah informasikan prosedur terlebih dahulu pada orang tua, gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan, cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan dan bertindak lembut pada saat menangani bayi, lepaskan pakaian hanya pada area yang diperiksa, untuk mencegah kehilangan panas, lakukan prosedur yang mengganggu seperti menguji refleks pada tahap akhir, lakukan secara cepat untuk menghindari stress pada bayi. Petugas dapat melihat, mendengarkan dan merasakan tiap – tiap daerah yang akan diperiksa yang dimulai dari kepala dan berlanjut secara sistematik menuju kaki. Jika ditemukan faktor resiko atau masalah, petugas dapat meminta bantuan yang memang diperlukan. Rekam dan catatlah hasil pengamatan setiap hasil pemeriksaan dan setiap tindakan yang diperlukan lebih lanjut.

Tujuan Pemeriksaan Fisik pada bayi baru lahir
(1) Mengidentifikasi riwayat kesehatan bayi
(2) Mengobservasi karakteristik bayi
(3) Memperkirakan usia gestasi
(4) Mengkaji perilaku bayi
(5) Mengkaji integritas neuromuscular
(6) Mengidentifikasi masalah kesehatan
(7) Merencanakan tindakan
(8) Menggunakan hasil pengkajian untuk mengajarkan orang tua tentang bayinya
Langkah –langkah dalam pemeriksaan fisik pada bayi :
(1) Pemeriksaan umum
Pemeriksaan umum dilakukan pada bayi baru lahir adalah pengukuran Anthopometri yaitu pengukuran lingkar kepala yang dalam keadaan normal berkisar 33 – 35 cm, lingkar dada 30,5 – 33 cm, panjang badan 45 – 50 cm, berat badan bayi 2500 gram – 4500 gram.
(2) Pemeriksaan tanda – tanda vital
Suhu tubuh, nadi, pernapasan bayi baru lahir bervariasi dalam berespon terhadap lingkungan.
(a) Suhu tubuh
Pada saat lahir suhu tubuh bayi hampir sama dengan suhu tubuh ibunya. Namun demikian bayi memiliki sedikit lemak, luas permukaan tubuh yang besar dan sirkulasi pernapasan yang belum sempurna, sehingga bayi mudah jatuh dalam kondisi hipotermi. Suhu bayi dalam keadaan normal berkisar antara 36,5 derajat celcius - 37,5 derajat celcius pada pengukuran diaksila.
(b) Nadi
Denyut nadi bayi tergantung dari aktivitas bayi. Nadi dapat menjadi tidak teratur karena adanya rangsangan seperti menangis, perubahan suhu yang tiba – tiba. Denyut nadi bayi yang normal berkisar 120 – 140 kali permenit.
(c) Pernapasan
Pernapasan pada bayi baru lahir tidak teratur kedalaman, kecepatan, iramanya. Pernapasannya bervariasi dari 30 sampai 60 kali permenit. Pernapasan juga dipengaruhi oleh aktivitas bayi seperti menangis, serta perubahan suhu yang tiba-tiba.
(d) Tekanan darah
Tekanan darah bayi baru lahir rendah dan sulit untuk diukur secara akurat. Meskipun tidak secara rutin diukur pada waktu lahir, tekanan darah yang dilakukan dengan ultrasonografi Doppler merupakan metode yang paling akurat pada bayi. Metode ini mengukur sistolik dan diastolik serta tekanan arteri rata – rata tekanan darah pada waktu lahir adalah 80/ 46 mmHg.
(3) Pemeriksaan fisik secara sistematik (head to too)
Pemeriksaan fisik secara sistematik pada bayi baru lahir dimulai dari :
(a) Kepala
Raba sepanjang garis sutura dan fontanel, apakah ukuran dan tampilannya normal. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan bayi preterm, moulding yang buruk atau hidrosefalus. Pada kelahiran spontan letak kepala, sering terlihat tulang kepala tumpang tindih yang disebut moulding atau moulase. Keadaan ini normal kembali setelah beberapa hari sehingga ubun –ubun mudah diraba. Perhatikan ukuran dan ketegangannya. Fontanel anterior harus diraba, fontanel yang besar dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini diakibatkan peningkatan tekanan intracranial, sedangkan yang cekung dapat terjadi akibat dehidrasi. Terkadang teraba fontanel ketiga antara fontanel anterior dan posterior, hal ini terjadi karena adanya trisomi 21.
Periksa adanya trauma kelahiran misalnya : caput suksedaneum, sefalhematoma, perdarahan subaponeurotik/ fraktur tulang tengkorak. Perhatikan adanya kelainan congenital seperti : anensefali, mikrosefali, kraniotabes dan sebagainya.
(b) Telinga
Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya pada bayi cukup bulan, tulang rawan sudah matang. Daun telinga harus berbentuk sempurna dengan lengkungan yang jelas dibagian atas. Perhatikan letak daun telinga. Daun telinga yang letaknya rendah (low set ears) terdapat pada bayi yang mengalami sindrom tertentu (Pierre – robin). Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel hal ini dapat berhubungan dengan abnormalitas ginjal.
(c) Mata
Hipertelorisme okular, mata dengan jarak lebar, jarak lebih dari 3 cm antara kantus mata bagaian dalam dapat dideteksi. Periksa jumlah, posisi atau letak mata. Periksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna. Periksa adanya glaukoma kongenital, mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea. Katarak congenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil harus tampak bulat. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina. Periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau retina, adanya secret pada mata, konjungtivitis oleh kuman gonokokus dapat terjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan. Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami sindrom down.
(d) Hidung dan mulut
Bibir bayi baru lahir harus kemerahan dan lidahnya harus rata dan simetris. Bibir dipastikan tidak adanya sumbing, dan langit – langit harus tertutup. Refleks hisap bayi harus bagus, dan berespons terhadap rangsangan. Kaji bentuk dan lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus lebih dari 2,5 cm.
Bayi harus bernapas dengan hidung, jika melalui mulut harus diperhatikan kemungkinan ada obstruksi jalan napas karena atresia koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring.
Periksa adanya sekret yang mukopurulen yang terkadang berdarah, hal ini kemungkinan adanya sifilis congenital. Periksa adanya pernapasan cuping hidung, jika cuping hidung mengembang menunjukkan adanya rangsangan pernapasan.
(e) Leher
Ukuran leher normalnya pendek dengan banyak lipatan tebal. Leher berselaput berhubungan dengan abnormalitas kromosom. Periksa kesimetrisannya. Pergerakannya harus baik. Jika terdapat keterbatasan pergerakan kemungkinan ada kelainan tulang leher. Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pada fleksus brakhialis. Lakukan perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan. Periksa adanya pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis. Adanya lipatan kulit yang berlebihan di bagian belakang leher menunjukkan adanya kemungkinan trisomi 21.
(f) Dada
Kontur dan simetrisitas dada normalnya adalah bulat dan simetris. Payudara baik pada laki – laki maupun perempuan terlihat membesar karena pengaruh hormone wanita dari darah ibu. Periksa kesimetrisan gerakan dada saat bernapas. Apabila tidak simetris kemungkinan bayi mengalami pneumotoraks, paresis diafragma atau hernia diafragmatika. Pernapasan yang normal dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan. Tarikan sternum atau interkostal pada saat bernapas perlu diperhatikan.
(g) Bahu, lengan dan tangan
Gerakan normal, kedua lengan harus bebas bergerak, jika gerakan kurang kemungkinan adanya kerusakan neurologis atau fraktur. Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya polidaktili atau sidaktili. Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu buah berkaitan dengan abnormalitas kromosom, seperti trisomi 21. Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut, sehingga menimbulkan luka dan perdarahan.
(h) Perut
Bentuk, penonjolan sekitar tali pusat pada saat menangis, perdarahan tali pusat. Perut harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan dada saat bernapas. Kaji adanya pembengkakan, jika perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika, perut yang membuncit kemungkinan karena hepato-splenomegali atau tumor lainnya. Jika perut kembung kemungkinan adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau duktus omfaloentriskus persisten.
(i) Kelamin
Pada wanita labia minora dapat ditemukan adanya verniks dan smegma (kelenjer kecil yang terletak di bawah prepusium mensekresi bahan yang seperti keju) pada lekukan. Labia mayora normalnya menutupi labia minora dan klitoris. Klitoris normalnya menonjol. Menstruasi palsu kadang ditemukan, diduga pengaruh hormon ibu disebut juga psedomenstruasi. Normalnya terdapat umbai himen. Pada bayi laki-laki rugae normalnya tampak pada skrotum dan kedua testis turun kedalam skrotum. Meatus urinarius normalnya terletak pada ujung glands penis. Epispadia adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kondisi meatus berada dipermukaan dorsal. Hipospadia untuk menjelaskan kondisi meatus berada dipermukaan ventral penis.
(j) Ekstremitas atas dan bawah
Ekstremitas bagian atas normalnya fleksi dengan baik, dengan gerakan yang simetris. Refleks menggenggam normalnya ada. Kelemahan otot parstial atau komplet dapat menandakan trauma pada pleksus brakhialis. Nadi brakhialis normalnya ada. Ekstremitas bagian bawah normalnya pendek, bengkok dan fleksi dengan baik. Nadi femoralis dan pedis normalnya ada.
(k) Punggung
Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tanda-tanda abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan atau cekungan, lesung atau bercak kecil berambut yang dapat menunjukkan adanya abnormalitas medulla spinalis atau kolumna vertebra.
(l) Kulit
Verniks (tidak perlu dibersihkan karena adanya untuk menjaga kehangatan tubuh bayi), warna, pembengkakan atau bercak-bercak hitam, tanda – tanda lahir. Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang bulan.
(m) Refleks
Refleks berkedip, batuk, bersin, dan muntah ada pada waktu lahir dan tetap tidak berubah sampai masa dewasa. Beberapa refleks lain normalnya ada waktu lahir, yang menunjukkan imaturitas neurologis, refleks – refleks tersebut akan hilang pada tahun pertama. Tidak adanya refleks – refleks ini menandakan masalah neurologis yang serius.


Refleks Respons Normal Respons abnormal
Rooting dan mengisap Bayi baru lahir menolehkan kepala kearah stimulus, membuka mulut dan mulai mengisap bila pipi, bibir, atau sudut mulut disentuh dengan jari atau putting susu. Respons yang lemah atau tidak ada respon terjadi pada prematuritas, penurunan atau cidera neurologis, atau depresi sistem saraf pusat (SSP). Sekunder karena menelan obat maternal (misalnya narkotik)
Menelan Bayi baru lahir menelan berkoordinasi dengan mengisap bila cairan ditaruh dibelakang lidah Muntah, batuk atau regurgitasi cairan dapat terjadi, kemungkinan berhubungan dengan sianosis sekunder karena prematuritas, defisit neurologis, atau cedera, terutama terlihat setelah laringoskopi.
Ekstrusi Bayi baru lahir menjulurkan lidah keluar bila ujung lidah disentuh dengan jari atau puting susu Ekstrusi lidah secara kontiniu atau menjulurkan lidah yang berulang – ulang terjadi pada kelainan SSP dan kejang.
Moro
Ekstensi simetris bilateral dan abduksi seluruh ekstremitas, dengan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf “C” diikuti dengan aduksi ekstremitas dan kembali ke fleksi relaks jika posisi bayi berubah tiba-tiba atau jika bayi diletakkan telentang pada permukaan yang datar. Respons asimetris terlihat pada cidera saraf perifer (plesus brakhialis) atau fraktur klavikula atau fraktur tulang panjang lengan dan kaki. Tidak ada respons terjadi pada kasus – kasus cedera SSP yang berat.
Melangkah Bayi akan melangkah dengan satu kaki dan kemudian kaki lainnya dengan gerakan berjalan bila satu kaki disentuh pada permukaan rata bayi akan berusaha untuk merangkak ke depan dengan kedua tangan dan kaki bila diletakkan telungkup pada permukaan datar. Respons asimetris terlihat pada cedera saraf SSP atau perifer atau fraktur tulang panjang kaki. Respons asimetris terlihat pada cedera saraf SSP atau perifer atau fraktur tulang panjang.
Tonik leher atau “flencing” Ekstremitas pada satu sisi dimana kepala ditolehkan akan ekstensi, dan ekstremitas yang berlawanan akan fleksi bila kepala bayi ditolehkan ke satu sisi selagi beristirahat. Respons ini dapat tidak ada atau tidak lengkap segera setelah lahir. Respons persisten setelah bulan keempat dapat menandakan cedera neurologis. Respons menetap tampak pada cedera SSP dan gangguan neurologis
Terkejut Bayi melakukan abduksi dan fleksi seluruh ekstremitas dan dapat mulai menangis bila mendapat gerakan mendadak atau suara keras Tidak adanya respons menandakan defisit neurologis atau cedera. Tidak adanya respons secara lengkap dan konsisten terhadap bunyi keras dapat menandakan ketulian. Respon dapat menjadi tidak ada atau berkurang selama tidur dalam.
Ekstensi silang Kaki bayi yang berlawanan akan fleksi dan kemudian ekstensi dengan cepat seolah – olah berusaha untuk memindahkan stimulus ke kaki yang lain bila diletakkan telentang bayi akan mengekstensikan satu kaki sebagai respon terhadap stimulus pada telapak kaki. Respon yang lemah atau tidak ada respon terlihat pada cedera saraf perifer atau fraktur tulang panjang.
Glabellar “blink” Bayi akan berkedip bila dilakukan 4 atau 5 ketuk pertama pada batang hidung pada saat mata terbuka. Terus berkedip dan gagal untuk berkedip menandakan kemungkinan gangguan neurologis.
Palmar graps Jari bayi akan melekuk disekeliling benda dan menggenggamnya seketika bila jari diletakkan di telapak tangan bayi. Respon ini berkurang pada prematuritas. Asimetris terjadi pada kerusakan saraf perifer (pleksus brakhialis) atau fraktur humerus. Tidak ada respon terjadi pada defisit neurologis yang berat.
Plantar graps Jari –jari bayi akan melekuk kebawah bila jari diletakkan di dasar jari – jari kaki Respon ini berkurang pada prematuritas.
Tanda Babinski Jari –jari kaki bayi akan hiperekstensi dan terpisah seperti kipas dari dorsifleksi ibu jari kaki bila satu sisi kaki digosok dari tumit ke atas melintasi bantalan kaki Tidak ada respon terjadi pada defisit SSP

d. Mencegah terjadinya infeksi pada bayi baru lahir
Pencegahan infeksi merupakan upaya untuk mencegah transmisi silang dan diterapkan dengan mengacu pada kewaspadaan standar. Proses peralatan atau instrument harus dilakukan secara benar dan mengikuti standar yang ada agar diperoleh hasil maksimal dan memenuhi syarat. Pencegahan infeksi tidak selalu berarti penambahan biaya, yang penting adalah terbangunnya budaya bersih, menjamin rasa aman dan kesungguhan untuk memberikan pelayanan berkualitas.
Infeksi yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir normal adalah melalui tali pusat. Tali pusat dalam istilah medis disebut umbilical cord. Ini merupakan saluran kehidupan bagi janin selama di dalam kandungan. Semasa dalam rahim, tali pusat inilah yang menyalurkan oksigen dan makanan dari plasenta ke janin yang berada di dalamnya, karena janin sudah dapat bernapas sendiri melalui hidungnya. Karena sudah tidak diperlukan lagi maka saluran ini harus dipotong dan dijepit atau diikat.
Infeksi dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusat yang tidak menggunakan alat – alat steril dan pada saat penyembuhan tali pusat. Ketika bayi baru lahir tali pusat biasanya masih terdapat pada abdomennya dengan beberapa tipe penjepitan atau pengikat tali pusat. Segera setelah lahir pembuluh umbilikus masih dapat menyebabkan perdarahan yang fatal bila penjepit atau pengikatnya kendur. Kadang- kadang bakteri memasuki area tersebut sebelum terjadi penyembuhan, hal inilah yang dapat menyebabkan infeksi pada tali pusat.

Pencegahan infeksi pada saat pemotongan tali pusat dan mengikat tali pusat dapat dilakukan dengan cara :
1. Bersihkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan kedalam larutan clorin 0,5 % untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
2. Klemlah tali pusat dengan dua buah klem yang steril kira – kira 2 dan 3 cm dari pangkal tali pusat, kemudian potonglah tali pusat diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri.
3. Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat, ganti sarung tangan jika telah kotor.
4. Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT).
5. Keringkan tangan dengan handuk atau kain bersih yang kering.
6. Ikat puntung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan benang disinfeksi tingkat tinggi atau klem plastik tali pusat yang steril.
Pemotongan tali pusat pada bayi lahir normal dilakukan sekitar 2 menit setelah bayi lahir atau setelah menyuntikan oksitoksin 10 IU intra muscular kepada ibu dengan alasan untuk memberi cukup waktu bagi tali pusat untuk mengalirkan darah kaya besi kepada bayi. Jangan mengoleskan salep apapun, atau zat lain ke tampuk tali pusat. Hindari pembungkusan tali pusat atau jika dibungkus tutupi dengan kassa steril dalam keadaan longgar, tampuk tali pusat yang tidak tertutup agar terkena udara akan mongering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang lebih sedikit. Popok bayi dilipat dibawah tali pusat, jika tali pusat terkena kotoran atau tinja bayi, cuci dengan air bersih serta keringkan betul – betul.
Tanda – tanda tali pusat mengalami infeksi yang perlu diwaspadai dengan cepat pada bayi lahir normal adalah :
• Tali pusat berwarna merah
• Daerah sekitar tali pusat bengkak
• Keluar cairan berbau busuk dari daerah sekitar tali pusat
• Cairan kadang – kadang disertai dengan darah
jika infeksi terjadi pada bayi lahir normal akan terjadi peningkatan suhu berkisar diatas 37,5° C, bayi menangis terus menerus tidak bisa tenang, kejang halus dan lemas.
Pencegahan infeksi pada saat pemulihan tali pusat :
Cuci tangan sebelum memegang bayi dan setelah menggunakan toilet untuk buang air kecil maupun air besar. Jaga tali pusat bayi dalam keadaan bersih selalu dan letakkan popok di bawah tali pusat. Jika tali pusat kotor cuci dengan air bersih dan sabun. Bayi dimandikan setiap hari dengan membersihkan seluruh badan bayi terutama tali pusat dibersihkan dengan air bersih, hangat, dan sabun. Jaga bayi dari orang – orang yang menderita infeksi dan pastikan setiap orang yang memegang bayi selalu cuci tangan terlebih dahulu.
Pengendalian infeksi nasokomial
Untuk mengendalikan infeksi nasokomial pada bayi baru lahir dan neonates diperlukan suatu prosedur standar yang harus dipatuhi oleh petugas yang terlibat didalamnya. Prosedur standar ini berbeda untuk setiap bangsal perawatan. Misalnya prosedur di bangsal bayi baru lahir yang sehat tidak sama dengan prosedur perawatan di bangsal perawatan intensif. Secara umum berbagai prosedur dibawah ini harus dikerjakan di bangsal perawatan bayi, yaitu :
1. Prosedur pada mata
Pencegahan ophthalmia neonatorum adalah satu cara yang praktis dilakukan untuk mengontrol infeksi pada bayi baru lahir. Untuk ini dapat dipakai obat mata topical seperti setetes larutan Perak Nitrat 1 % ; salep mata eritromisin 0,5 % atau Tetrasiklin 1 %. Kedua salep mata ini juga dapat mencegah Klamidia trakomatis. Berikan dalam 1 jam pertama kelahiran. Setelah pemberian profilaksis infeksi mata, kembalikan bayi pada ibunya untuk disusukan dan bergabung kembali.
2. Perawatan kulit dan tali pusat
Dianjurkan untuk merawat kulit neonates dengan teknik “dry skin care”, maksudnya membuat kulit agar tetap kering dengan mengatur suhu kamar, mengurangi trauma pada kulit dan mencegah pemberian obat – obat topikal yang mempunyai efek samping terhadap kulit. Dalam hal ini termasuk membersihkan bayi hendaknya setelah temperaturnya stabil dan tidak menggunakan antiseptik. Kemudian untuk menghilangkan darah dan mekonium dari wajah, kepala dan badan dipakai spons katuun yang steril dengan air hangat. Untuk perawatan tali pusat, tidak satupun yang lebih baik dari pada yang lainnya untuk membatasi kolonisasi bakteri. Yang penting ialah membuat tali pusat kering. Untuk itu dapat dipakai obat – obat topikal seperti :
• Triple dye
• Salep Bacitracin
• Krem Silver sulfadiazine
• Betadine 10 %
Semua obat diatas dapat memperlambat atau mengurangi kolonisasi bakteri di tali pusat, terutama Stafilokokkus aureus. Alkohol, yang sering dipakai di rumah sakit maupun setelah pulang dari rumah sakit mempercepat keringnya tali pusat dan lepasnya tali pusat. Akan tetapi obat ini efektif untuk membatasi kolonisasi bakteri.
3. Staf perawatan
Oleh karena banyaknya bayi dalam satu bangsal dan kurangnya staf, akan meningkatkan terjadinya infeksi nasokomial. American Academy of Pediatrics menganjurkan pada bangsal bayi baru lahir yang sehat rasio perawat : bayi adalah 1 perawat : 6 – 8 bayi; sedangkan bangsal bayi dengan rawat gabung parsial membutuhkan 1 perawat untuk 4 – 5 pasangan ibu bayi. Disini dianjurkan agar perawat mencuci tangan terlebih dulu sebelum kontak dengan bayi. Di bangsal bayi baru lahir dengan perawatan intensif yang sederhana diperlukan rasio 1 : 3 – 4, maksudnya satu perawat untuk 3 – 4 bayi, dan pada bangsal perawatan intensif (NICU) 1 perawatan untuk 1 – 2 bayi.
4. Desain ruang perawatan
Jarak yang adekuat antara tempat tidur bayi dengan peralatan lainnya dapat mencegah kepadatan dan mengurangi resiko kontaminasi yang tidak disengaja antara bayi dengan petugas. Luas lantai yang di rekomendasikan untuk satu tempat tdr bayi bervariasi tergantung intensitas perawatannya. Untuk level 1 : 20- 25 tempat tidur; level II : 30 – 50 feet dan level III : 80 – 100.
5. Rawat gabung
Banyak rumah sakit melakukan rawat gabung untuk merawat bayi normal. Dari berbagai penelitian terlihat bahwa tidak ada kenaikan insiden infeksi nasokomial pada bayi –bayi yang dirawat gabung bila dibandingkan pada bayi – bayi yang dirawat gabung bila dibandingkan pada bayi – bayi yang dirawat di bangsal perawatan bayi normal. Jika program ini adalah suatu cara yang potensial untuk mengurangi resiko kepadatan dan menurunkan kontaminasi silang di bangsal perawatan bayi normal. Setiap orang yang masuk ke kamar bayi harus memakai sandal khusus dan mencuci tangan.
6. Air susu ibu
Air susu ibu adalah makanan standar bagi semua bayi. Menggalakkan penggunaan air susu ibu adalah sangat penting karena ASI member perlindungan alamiah terhadap problema saluran cerna yang sering timbul pada neonatus. Clavano (1982) dengan cara rawat gabung dan penggunaan ASI berhasil menurunkan kejadian diare, moniliasis mulut dan sepsis. Sedangkan Narayan (1981) dengan penggunaan ASI pada BBLR berhasil pula menurunkan kejadian infeksi.
7. Mencuci tangan
Oleh karena cara penularan infeksi yang utama di bangsal bayi adalah melalui tangan petugas (bakteri transien), maka mencuci tangan merupakan salah satu cara yang efektif untuk melaksanakan program mengkontrol infeksi. Dengan mencuci tangan maka mikroba yang berada di tangan petugas akan hilang. Mencuci tangan dengan memakai sabun selama 15 detik akan menghilangkan mikroba yang berada di tangan (bakteri transien). Sedangkan untuk membersihkan bakteri residen diperlukan waktu yang lebih lama dan harus memakai detergen anti bakteri.
8. Pakaian
Dulu pemakaian gaun dianjurkan. Akan tetapi ternyata pemakaian gaun ini tidak mengurangi penularan bakteri atau tidak menurunkan insiden infeksi nasokomial di bangsal bayi baru lahir.
9. Isolasi
Diperlukan pada kasus yang menular seperti penyakit karena stafilokokkus, konjungtivitis bakterialis, dan diare. Perlindungan fisik (isolasi) adalah suatu cara untuk mengendalikan penyebaran infeksi di rumah sakit.
10. Pengunjung
Harus dibatasi masuk ke bangsal perawatan bayi untuk mencegah timbulnya infeksi, terutama pengunjung yang sakit.
11. Pengontrolan terhadap epidemic
Yaitu dengan pemeriksaan epidemiologi mendata prosedur dan teknik yang selama ini digunakan untuk merawat bayi seperti perawatan kulit dan tali pusat, cara – cara desinfeksi dan sterilisasi alat – alat.
Hal ini dilakukan dengan cara :
• Survey kultur dari pasien –pasien yang disangkakan untuk mendeteksi karier asimptomatik (misalnya tali pusat lubang hidung pada epidemi stafilokokkus).
• Kultur bagian –bagian tubuh petugas yang selalu berhubungan dengan perawatan bayi untuk mengetahui sumber dan cara penularan.
• Memperhatikan bayi – bayi yang dirawat.
• Memperhatikan kesehatan petugas.
• Merubah prosedur perawatan kulit dan tali pusat.
• Merubah cara membersihkan tangan dan antiseptik yang digunakan.
• Antimikroba profilaksis, seperti penisilin pada epidemi streptokokkus.
e. Menjaga temperatur dan mencegah kehilangan panas tubuh
Tubuh bayi baru lahir belum mampu untuk melakukan regulasi temperature tubuh sehingga jika penanganan pencegahan kehilangan panas tubuh dan lingkungan sekitar tidak disiapkan dengan baik, bayi tersebut dapat mengalami hipotermi yang dapat mengakibatkan bayi menjadi sakit atau mengalami gangguan fatal.
Mekanisme kehilangan panas tubuh yang dapat dialami oleh bayi dapat melalui 4 mekanisme yaitu :
(1) Mekanisme kehilangan panas secara evaporasi.
Mekanisme kehilangan panas secara evaporasi adalah proses kehilangan panas tubuh bayi dengan penguapan cairan pada permukaan tubuh bayi. Ketika bayi telah lahir, tubuh yang basah akan terpapar ke udara yang dingin diruang bersalin, kedinginan yang tiba – tiba ini menyebabkan bayi akan kehilangan panas tubuhnya dengan cepat, karena permukaan kulit tubuh sangat luas sehingga suhu dapat turun dengan cepat.
(2) Mekanisme kehilangan panas secara konduksi.
Tubuh bayi bersentuhan dengan permukaan yang temperaturnya lebih rendah. Contoh ke instrument yang dingin.
(3) Mekanisme kehilangan panas secara konveksi.
Tubuh bayi terpapar udara atau lingkungan bertemperatur dingin. Contoh seperti ke aliran udara yang dingin oleh kipas angin.
(4) Mekanisme kehilangan panas secara radiasi.
Pelepasan panas akibat adanya benda yang lebih dingin di dekat tubuh bayi. Contoh kedinding ruangan yang dingin.
Mencegah kehilangan panas tubuh bayi :
• Pastikan bayi tersebut tetap dalam keadaan hangat dan terjadi kontak antara kult bayi dengan kulit ibu.
• Mengganti handuk atau kain basah serta bungkus bayi dengan selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindung dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.
• Tempatkan bayi pada suhu lingkungan yang hangat dan tidak banyak hembusan angin dengan batasan normal suhu ruangan berkisar 36,5° C sampai 37° C.
• Jangan segera menimbang bayi tanpa penutup tubuh dan jangan segera memandikan bayi, tunggu minimal 6 jam setelah bayi lahir dengan suhu minimal 36,5° C.
f. Memahami manfaat kontak dini (termasuk asupan dini atau inisiai dini ASI) dan rawat gabung ibu dan bayi.
Pemberian inisiasi menyusu dini pada bayi baru lahir.
Seringkali ibu mengalami kesulitan untuk menyusui bayinya. Hal ini salah satunya adalah dikarenakan kegagalan atau tidak adanya IMD atau “Inisiasi Menyusui Dini” pada bayi yang baru lahir. Bidan dan dokter penolonglah yang seharusnya memiliki inisiatif ini. Selama ini kesalahan yang dilakukan adalah bahwa bayi yang baru lahir langsung dibersihkan, dibungkus dengan pakaian baru disusukan ke ibunya. Padahal sebenarnya bukan seperti itu cara yang tepat.
Definisi :
Memberikan kesempatan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir dengan meletakkan bayi di dada atau perut ibu dan kulit bayi melekat pada kulit ibu (skin to skin contact) setidaknya selama 1 – 2 jam sampai bayi menyusu sendiri.
Proses ini dapat menghindari kematian bayi dan juga penyakit – penyakit yang menyerangnya selama hidupnya. Menyusui dini sangat berpengaruh terhadap keselamatan, pertumbuhan dan perkembangan bayi. Menyusu secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, dengan makanan tambahan yang tepat dan terus menyusu dari usia 6 bulan sampai 2 tahun, dapat mengurangi sedikitnya 20% seluruh kematian bayi dan balita. Menyusu mencegah malnutrisi pada anak, suatu faktor yang mempengaruhi lebih dari setengah kematian bayi secara global, sehingga harus diupayakan perbaikan praktek menyusui agar dapat mengurangi kejadian malnutrisi dan kematian bayi secara efektif.
Inisiasi menyusu dini merupakan kontak kulit ibu dan bayi segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam. Dalam tindakan inisiasi menyusu dini ini bayi menggunakan naluri alamiahnya untuk melakukan inisiasi menyusu dini dan ibu tau bayinya siap untuk menyusui.
Dalam istilah yang lain, inisiasi menyusui dini disebut juga sebagai proses Breast Crawl. Dalam sebuah publikasi yang berjudul Breast Crawl : A Scientific Overview beberapa hal yang menyebabkan bayi mampu menemukan sendiri putting susu ibunya, dan mulai menyusui disebabkan oleh :
(1) Sensory inputs atau indera yang terdiri dari penciuman ; terhadap bau khas ibunya setelah melahirkan, penglihatan ; karena bayi baru lahir dapat mengenal pola hitam putih, bayi akan mengenali puting dan wilayah areola ibunya karena warna gelapnya. Berikutnya adalah indera pengecap; bayi mampu merasakan cairan amniotic yang melekat pada jari –jari tangannya, sehingga bayi pada saat baru lahir suka menjilati jarinya sendiri. Kemudian, dari indera pendengaran; sejak dari dalam kandungan suara ibu adalah suara yang paling dikenalnya. Dan yang terakhir dari indera perasa dengan sentuhan; sentuhan kulit ke kulit antara bayi dengan ibu adalah sensasi pertama yang member kehangatan, dan rangsangan lainnya.
(2) Central Component. Otak bayi yang baru lahir sudah siap untuk segera mengeksplorasi lingkungannya, dan lingkungan yang paling dikenalnya adalah tubuh ibunya. Rangsangan ini harus segera dilakukan, karena jika terlalu lama dibiarkan, bayi akan kehilangan kemampuan ini. Inilah yang menyebabkan bayi yang langsung dipisah dari ibunya, akan lebih sering menangis dari pada bayi yang langsung ditempelkan ke tubuh ibunya.
(3) Motor Outputs. Bayi yang merangkak di atas tubuh ibunya, merupakan gerak yang paling alamiah yang dapat dilakukan bayi setelah lahir. Selain berusaha mencapai puting ibunya, gerakan ini juga memberi banyak manfaat untuk sang ibu, misalnya mendorong pelepasan plasenta dan mengurangi perdarahan pada rahim ibu.
Melakukan IMD pada bayi merupakan pengalaman yang hanya terjadi sekali seumur hidup, dan menentukan keberhasilan ASI Eksklusif selama 6 bulan.
Sebaiknya pemberian praktek inisiasi dini dilakukan terlebih dahulu dengan menunda beberapa prosedur lain untuk bayi baru lahir normal seperti pemberian antibiotika salep mata, vitamin K1, menimbang, dan lain – lain, sehingga inisiasi menyusu dini selesai. Praktek inisiasi dini menyusu dini tidak hanya dilakukan pada pertolongan persalinan normal, tetapi juga persalinan dengan Caesar. Dibawah ini adalah tata laksana inisiasi menyusu dini di kamar operasi :
(a) Menjelaskan kepada ibu dan ayah mengenai inisia menyusu dini dan mengenali tanda – tanda dan perilaku sebelum menyusu sehingga ayah akan mendukung dan membantu meningkatkan percaya diri ibu.
(b) Dianjurkan ada keluarga mendampingi ibu saat operasi.
(c) Dalam menolong persalinan, sebaiknya menggunakan anaestesi epidural.
(d) Suhu dikamar operasi sebaiknya tidak terlalu dingin. Jika mungkin, diusahakan suhu ruangan 20° C sampai 25° C.
(e) Bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua tangan dan menghilangkan verniks.
(f) Bayi ditengkurapkan di dada ibu supaya terjadi kontak kulit bayi dengan kulit ibu. Keduanya diselimuti dari atas. Bayi diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepala.
(g) Bayi dibiarkan mencari sendiri puting susu Ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut bila bayi telah menunjukkan kesiapan (misalnyaterlihat menggerakkan kepala mendorong kaki, atau mengeluarkan air liur. Tetapi tidak memaksakan bayi ke puting ibu.
(h) Bila inisiasi menyusu dini belum terjadi dikamar operasi, bayi tetap diletakkan di dada ibu waktu dipindahkan kekamar pemulihan. Usaha menyusu dini dilanjutkan dikamar perawatan bayi.
(i) Bayi baru dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dicap, setelah menyusu awal selesai. Prosedur invasif, seperti suntikan vitamin K1 dan meneteskan mata bayi ditunda.
(j) Ibu dan bayi tetap tidak dipisahkan selama 24 jam, dirawat gabung, serta pemberian minum prelakteal dihindarkan.
Keuntungan praktek inisiasi menyusu dini pada bayi baru lahir diantaranya adalah :
1. Mengurangi infeksi dengan member kekebalan pasif maupun aktif pada bayi.
2. Kolostrum akan lebih cepat keluar dan ASI merupakan makanan dengan kualitas dan kuantitas optimal sesuai dengan kebutuhan bayi.
3. Segera memberikan kekebalan pasif pada bayi karena kolostrum merupakan imunisasi pertama pada bayi. Cairan ini dinamakan the gift of life.
4. Memudahkan pelaksanaan ASI ekslusif yang akan meningkatkan kecerdasan. Bayi yang diberikan kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusui eksklusif dan akan lebih lama disusui.
5. Membantu bayi mengkoordinasikan kemampuan menghisap, menelan dan bernapas. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi.
6. Meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayinya. Bounding (ikatan kasih sayang) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada 1 – 2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.
7. Mencegah kehilangan panas tubuh bayi. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara ibu. Ini akan menurunkan kematian karena kedinginan (hipotermi).
8. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi.
9. Hentakan kepala bayi di dada ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu dan sekitarnya, emutan dan jilatan bayi pada puting susu ibu merangsang pengeluaran hormone oksitosin.
10. Ibu dan ayah akan merasa sangat bahagia bertemu dengan bayinya untuk pertama kalinya dalam kondisi seperti ini. Bahkan, ayah mendapatkan kesempatan mengazankan bayinya di dada ibunya. Suatu pengalaman batin bagi ketiganya yang amat indah.




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diagnosis bayi baru lahir pada dasarnya berguna untuk mencari atau mendeteksi sedini mungkin adanya kelainan pada janin. Kegagalan untuk mendeteksi kelainan janin dapat menimbulkan masalah pada jam – jam pertama kehidupan bayi diluar rahim. Dengan mengetahui kelainan pada janin dapat membantu untuk mengambil tindakan serta memberikan asuhan keperawatan yang tepat sehingga dapat membantu bayi baru lahir sehat untuk tetap sehat sejak awal kehidupannya.
Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke ekstrauterin dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi, mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir normal. Penatalaksanaan dan mengenali kondisi kesehatan bayi baru lahir resiko tinggi yang mana memerlukan pelayanan rujukan/ tindakan lanjut.

B. Saran
1. Setelah memahami tentang bayi baru lahir tentunya bisa dilakukan penerapan yang baik untuk dapat melakukan pemeriksaan yang spesifik pada bayi baru lahir sehingga dapat menetapkan diagnosis yang benar agar dapat dilakukan perawatan yang lebih intensif jika ditemukan adanya masalah.
2. semua tenaga kesehatan dapat bekerja sama untuk dapat memberikan perawatan yang benar terkait dengan bayi baru lahir.





DAFTAR PUSTAKA

Behrman,dkk.(2000).Ilmu kesehatan Anak Nelson Vol 3.Jakarta: EGC
Farrer, Helen.(1999). Perawatan Maternitas: Ed. 2. Jakarta : EGC.
Winknjsastro, Hanifa.(2005).Ilmu Kebidanan Ed 3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwon Prawirohardjo
Ngastiyah, (1997). “Perawatan Anak Sakit”. Jakarta : EGC
Staf Pengajar IKA-FKUI, (1985). “Ilmu Kesehatan Anak”. Jakarta : Infomedika










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar